Kasus Perempuan dan Anak Seperti Fenomena Gunung Es
Kamis, 21 Maret 2019. Waktu baca 1 menit 54 detik.
Kasus Perempuan dan Anak Seperti Fenomena Gunung Es
MERANTI - Kasus perempuan dan anak seperti Fenomena gunung es. Tak nampak dipermukaan, tapi ada. Kemudian setelah ada laporan barulah kasusnya mencuat.
Demikian dikatakan Kabid Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3APPKB) Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Juwita Ratna Sari.
"Dia sebetulnya ada dan terjadi. Tapi, ketika nanti ada laporan itulah baru mencuat dan ketika diselidiki, maka disitulah baru taunya," katanya.
Dijelaskan wanita yang akrab disapa Ratna itu, dengan semakin gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan maka semakin meningkat pula kasus perempuan dan anak.
"Jadi, masyarakat yang tau, tidak boleh takut untuk melapor karena akan dilindungi. Apalagi, ada unit perlindungan anak yang melindungi. Karena paradigma masyarakat butuh orang yang melindungi yang bisa membawa ke ranah hukum maupun menyelesaikan secara kekeluargaan," jelasnya.
Dengan begtu, Ratna menambahkan, mereka juga jadi tau bahwa dari pemerintah menyediakan lembaga untuk menangani masalah ini.
"Saya sudah prediksi dari awal. Semakin kita gencar sosialisasi, maka akan semakin naik grafik kasus perempuan dan anak ini. Karena masyarakat tau diamana tempatnya hendak melapor dan dimana tempat aman untuk melapor," tuturnya.
Dipaparkan Ratna, tahun sebelumnya atau tahun 2018 ada 39 kasus perempuan dan anak, kemudian dengan gencarnya sosialisasi di tahun 2019 diprediksi grafiknya akan meningkat.
"Karena itu tadi. Masyarakat selama ini tidak tau. Mereka hanya menyimpan didalam hati, takut mau melapor itu akan berani untuk melapor karena sudah kita sosialisasikan," paparnya.
Kemudian, kata Ratna, dengan sosialisasi yang dilaksanakan mulai membuka pola pikir masyarakat untuk tidak takut melaporkan kasus maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Kepulauan Meranti.
"Sosialisasi yang dilakukan juga telah membuka pola pikir masyarakat agar jangan malu dan tidak takut untuk melapor karena kita akan tindak tegas para pelaku," ungkapnya.
Anggota Komisi I DPRD Kepulauan Meranti, Ardiansyah mengatakan bahwa terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan menggencarkan sosialisasi itu tentu sangat membantu dalam upaya pencegahan.
"Ini adalah upaya yang penting dilakukan mengingat kekerasan kepada perempuan dan anak kerap terjadi," katanya.
Menurutnya pula, yang menjadi faktor penyebab terjadinya persoalan tersebut salah satunya adalah perkembangan teknologi yang kian pesat.
"Dengan kemajuan teknologi yang pesat sudah tidak ada batas lagi. Jadi melalui sosialisasi yang dilakukan diharapkan dapat memahami dan mengantisipasi kekerasan perempuan dan anak," ungkapnya. (humas/004)
Kategori
Topik
Bagikan