Wisata 5 di Masjid Tua Selatpanjang
Rabu, 15 Mei 2019. Waktu baca 3 menit 31 detik.
Wisata 5 di Masjid Tua Selatpanjang
MERANTI--Bulan Suci Ramadan merupakan salah satu momentum bagi umat Muslim semakin meningkatkan ibadah dan keimanan kepada sang pencipta. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya berwisata 5 ke masjid-masjid tua.
Setelah ditelusuri, di Kepulauan Meranti terdapat masjid yang memiliki nilai sejarah yang menarik untuk dikunjungi pada Bulan Suci Ramadan ini. Tapatnya di samping utara Telaga Bening, Jalan Masjid, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kabupaten Kebulauan Meranti, berdiri satu unit masjid minimalis. Masjid Al-Falah namanya.
Walau bangunannya tidak tampak tua, kabarnya masjid tersebut telah berdiri sejak 1924 silam. Bahkan, dapat dipastikan tidak ada masjid yang tersebar di Kepulauan Meranti memiliki usia melebihi dari usia masjid tersebut.
Al-Falah berdiri di lahan seluas 207 meter. Namun, lahan tersebut tidak berbentuk segi empat, karena memiliki sekira 16 lekuk.
Luas bangunan masjid sekira 80 meter dengan sebuah kubah induk. Bangunannya ditopang oleh empat tiang utama dengan lebar diameter setiap tiang tidak kurang dari 120 cm. Sementara tinggi setiap tiang, kurang lebih sekitar 13 meter.
Dari luar, bentuk fisik masjid memang tidak tampak spesial dari masjid-masjid pada umumnya. Begitu juga dengan keberadaan ornamen. Hal itu dibenarkan, karena seluruh struktur masjid telah direvitalisasi dan jauh dari bentuk semula.
Pantauan di lapangan belum lama ini, beberapa orang anggota dan pengurus tampak sibuk resik-resik, mulai dari luar hingga bagian dalam. Kegiatan itu diakui segaja dilakukan menjelang masuknya bulan Ramdan.
Pengurus Masjid Al-Falah, Heru membenarkan fisik masjid tersebut telah mengalami perubahan total dari bagunan lama. 2014 lalu pembongkaran dilakukan mengingat beberapa tiang dan dinding bangunan sudah mulai miring dan kropos.
"Bangunan lama dibongkar dan dibangun ulang karena tidak layak, kropos dan miring. Sempat ada kecelakan, karena atas gugurnya sekeping kramik dan menimpa kepala jamaah. Upaya revitalisasi terpaksa dilakukan, namun atas kesepakatan Ormas, masyarakat dan melibatkan tokoh masyarakat," ungkapnya saat didampingi oleh Ketua Pengurus Masjid Al-Falah H Safriadi.
Ia tidak menyangkal sebelumnya, keberadaan bangunan lama dibangun sejak penjahan Belanda 1924 silam. Al-Falah berdiri diprakarsai oleh seorang pedagang dan saudagar asal tanah Bugis, bernama H Daeng Yusuf (Alm). Sama seperti sekarang, ketika itu Selatpanjang menjadi tempat persinggahan oleh pedagang dari berbagai daerah. Terutama pedagang muslim dari tanah Bugis dan Melayu Malaka.
Para pedagang muslim memang tidak menemukan tempat layak untuk beribadah secara berjamaah. Timbullah niat H Daeng Yusuf seorang pedagang, alim, kaya dan dermawan untuk mendirikan masjid Al-Falah dengan dibantu oleh para pedagang muslim lainnya. Termasuk sumbangan membangun pagar oleh dr Mamaun (Alm).
"Dan, kabar yang sama diterima dari H Syuib Manaf sebelum ia meninggal dunia, dalam membangun masjid Al-Falah itu H Daeng Yusuf mendapat restu dari Kerajaan Siak dan didonasi oleh beberapa saudagar muslim. Pasalnya, Selatpanjang ketika itu di bawah wewenang Kerajaan Siak," ujarnya.
Bagunan pertama Al-Falah hanya berukuran lebih kurang 64 meter dari bahan batu merah dan pasir serta semen. Sementara bentuk bangunan semirip mungkin dengan masjid yang ada di bawah kerajaan Siak. Namun setiap tulang beton hanya menggunakan rel kereta api.
Karena termasuk wilayah Distrik, maka oleh Sultan Siak memberi keperjayaan kepada H Muhammad Yunus Ahmad (Alm)untuk menjadi imam pertama. Ia warga tempatan dan secera kebetulan juga seorang alim ulama asal daerah setempat.
"Kalau tidak silap, Sultan Siak sempat mengeluarkan SK kepada Imam Alm H Muhammad Yunus Ahmad sebagai imam pertama Al-Falah. Tapi masih ada atau tidaknya tidak bisa saya pastikan. Kabarnya sudah lapuk termakan usia," ungkapnya.
Seiring dengan kurun waktu, setelah imam Masjid pertama meninggal, oleh Sultan Siak diberikan kepercayaan kepada Imam H Abdullah (alm) asal Bengkalis, kemudian diteruskan kepada H Muhamad Yunus (Alm) asal Selatpanjang dan Hingga kini menjadi Imam adalah H Syuib manaf(Alm).
Dari Informasi yang dterima 1977 Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun dilantik. Ketua MUI Pertama Nahar kasim (Alm). Di Al-Falah dibuat berbagai program keagamaan terutama membuka taman bacaan Al-Qur,an, membentuk persatuan wirid dan lain sebagainya. Dan kegiatan terebut masih berlanjut hingga saat ini.
Cerita tersebut juga dibenarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan 2 Kabupaten Kepulauan Meranti Rizki. Menurutnya objek wisata 5 di daerah tersebut lumayan banyak. Namun belum semua terawat dengan baik.
Selain Masjid Al Falah, ia mengaku terdapat satu lagi masjid yang tidak kalah tua. Tepatnya di Kecamatan Rangsang Barat Kepulauan Meranti.
"Dalam waktu dekat akan kita akan berupaya membuat tim investigasi terhadap situs bersejarah di Meranti. Minimal kita punya naskahnya untuk dijadkkan alat bukti jika itu benar benar bersejarah. Namun untuk menuju ke sana, pihaknya sangat membutuhkan knformasi kongkrit dari semua pihak," ujarnya.(hms003)
Kategori
Topik
Bagikan