Rentang 2016 - 2018, Investasi Masuk Capai Rp 109 M

Rabu, 28 November 2018. Waktu baca 2 menit 27 detik.
image
Rentang 2016 - 2018, Investasi Masuk Capai Rp 109 M

Selatpanjang - Dari tahun 2016 hingga tahun 2018 total investasi yang masuk ke Kabupaten Kepulauan Meranti tercatat sebesar Rp 109 miliar. Angka tersebut terbagi dalam berbagai sektor, mulai dari perhotelan, peternakan, usaha pelayaran dan agen penjualan minyak.

Kepala Bidang Perencanaan Pengembangan Iklim dan Promosi Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kepulauan Meranti, Riau, Yuliendri menjelaskan saat ini bisnis perhotelan menjadi sektor yang paling banyak berinvestasi, Rabu (28/11/2018)

"Sektor ini dianggap menguntungkan, mengingat tingkat kunjungan tamu luar daerah yang datang ke Meranti cukup tinggi. Terutama saat iven tertentu, seperti Cian Cui Imlek," kata Yuliendri.

Dari data Dinas Penanaman Modal Kepulauan Meranti dapat dirincikan jumlah investasi yang masuk pada 2016 hanya sebesar Rp 1,75 miliar dari PT Mas Artha Sarana yang bergerak dalam usaha penjualan minyak.

Pada tahun 2017, nilai investasi yang masuk meningkat menjadi Rp 48,7 miliar. Dimulai dari tiga investasi di bidang penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM), yakni PT Tujuh Saudara Sejahtera sebesar Rp 2 miliar, PT Mutiara Rezeki Rp 3,7 miliar dan PT Meranti Sofia Jaya Mandiri sebesar Rp 1,8 miliar.

Kemudian ada dua hotel baru yakni Red 9 Hotel sebesar Rp 1 miliar dan San San Hotel Rp 1,1 miliar. Selanjutnya PT Era Mas Marindo yang bergerak di bidang pelayaran berinvestasi sebesar Rp 4,77 miliar, PT Pertanian Sukses Meranti yang bergerak di bidang perkebunan karet berinvestasi sebesar Rp 3 miliar dan PT Rubber Indo yang bergerak di bidang yang sama berinvestasi Rp 1,5 miliar.

Lalu PT Limindo Mandiri Jaya yang bergerak di bidang angkutan laut domestik berinvestasi sebesar Rp 3 miliar dan PT Oldstar yang bergerak di bidang penjualan barang rumah tangga sebesar Rp 2 miliar.

Sedangkan pada tahun 2018, nilai investasi mencapai Rp 58, 6 miliar. Ada tiga hotel baru yang berinvestasi, yakni AKA Meranti Hotel sebesar Rp 9.060 miliar, Diva Hotel Rp 11,5 miliar dan Indobaru Hotel 14,5 miliar. Lalu ada
penambahan fasilitas Grand Meranti Hotel sebesar Rp 8,2 miliar. PT Agro Mas Sakti yang bergerak di penjualan minyak kelapa sebesar Rp 1,5 miliar dan PT Mitra Meranti Sukses berinvestasi Rp 1,2 miliar untuk penjualan minuman beralkohol (Minol).

Yuliendri menerangkan angka investasi tersebut sesuai dengan yang tertera pada izin prinsip yang diisi oleh pemohon. Kemudian diajukan pada Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (Spipise).

"Nilai investasi itu diisi langsung oleh pemohon, jadi tidak ada rekayasa," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pada tahun 2018 ini ada dua perusahan yang baru mencatat jumlah modal yang diinvestasikan dalam aplikasi, walaupun sudah lama beroperasi. Perusahaan tersebut adalah PT Lili Anugerah (Hotel Lili) dengan nilai investasi sebesar Rp 10 miliar dan New Furama Hotel sebanyak Rp 2,5 miliar.

"Dua perusahaan itu baru mendaftar pada sistem padahal sudah lama beroperasi," terang Yuliendri.

Meski jumlah investasi yang sudah tercatat hingga ratusan miliar, Kabid Penanaman Modal Meranti itu menilai masih tidak maksimal dikarenakan masih belum memadainya sarana dan prasarana dasar di Meranti.

"Kita akui belum maksimal. Itu karena masih minimnya sarana dasar di Meranti, seperti listrik, air bersih dan yang lainnya," sebutnya.

Dalam upaya meningkatkan jumlah investor yang masuk, Pemkab Kepulauan Meranti masih melakukan Free Tax atau bebas pajak dalam waktu tertentu bagi investasi yang baru masuk. (MC Meranti/Humas/Na)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti