Kasus Narkoba Meningkat, Meranti Butuh Peran Semua Orang
Kamis, 16 Mei 2019. Waktu baca 2 menit 33 detik.
Kasus Narkoba Meningkat, Meranti Butuh Peran Semua Orang
MERANTI-Kasus Narkoba di Kabupaten Kepulauan Meranti saban tahun terus meningkat. Untuk mengurai masalah tersebut, pemerintah daerah berharap peran serta semua pihak.
Seperti dikatakan Sekretaris Daerah Kepulauan Meranti H. Yulian Norwis SE MM, mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama memberantas peredaran Narkoba di sana. "Mari kita jauhi Narkoba dan mari bersama-sama memberantas peredaran Narkoba," ujar Sekda Meranti H. Yulian Norwis SE MM.
Menurut Sekda, dalam memberantas peredaran narkoba tidak hanya menjadi tugas penegak hukum tetapi butuh partisipasi semua lapisan masyarakat di lingkungannya masing masing yang dimulai dari tingkat terkecil RT/RW. Jika tidak, maka peredaran narkoba yang semakin masif dan sistemik hingga semakin mustahil diberantas.
Dari data yang dilansir oleh Polres Kepulauan Meranti, pengungkapan kasus Narkoba di daerah itu 2017 silam terdapat 45 kasus yang menjerat 67 orang tersangka. Barang bukti yang berhasil disita; shabu 73,96 gram, ganja 11,10gram, dan ekstasi 1 butir
Sementara 2018 kemarin, meningkat menjadi 69 kasus yang dengan 117 orang tersangka. Barang bukti terdapat shabu seberat 310, 60 gram, ganja 44,38 gram, serta 115 butir ekstasi.
Seperti dibeberkan oleh Kapolres Kepulauan Meranti AKBP La Ode Proyek, belum lama ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh para sindikat Narkoba internasional untuk memasukkan "barang" dagangannya ke Indonesia.
Modusnya operandi. Penyelundupan dilakukan terstruktur, terukur dan sistematis. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengelabui petugas keamanan, agar Narkoba yang mereka bawa lolos dari pantauan.
Selain luas, sebagian pulau startegis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga juga telah menjadi pintu masuk yang menarik bagi sindikat internasional. Selebihnya didukung oleh banyaknya lelabuhan tikus.
Menurut La Ode, salah satu gerbang utama masuknya Narkoba di negara ini melalui Kepulauan Meranti, yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.
"Masuknya dari pelabuhan tikus. Memang jumlahnya tidak besar tapi rutin dan tidak putus. Ada yang transit dari Kecamatan Merbau, dan ada dari Tanah Merah Kecamatan Rangsang Pesisir yang berbatasan langsung dengan Malaysia," ungkapnya.
Menurut La Ode Proyek, penyelundupan Narkoba di wilayahnya tidak bisa dipisahkan dari peredaran Narkoba yang terungkap. Terlebih saban tahun peredaran Narkoba di wilayah hukumnya tersebut tercatat meningkat tajam.
"Iya meningkat tajam. Mulai dari pengguna hingga jumlah pengedar. Kalau di Meranti sebenarnya tempat menjual, tapi ada terus. Kalau penjual mereka ambil dari bandar besar dari negara luar. Sekali masuk bisa satu kilo tapi bagi-bagi lagi. Dan itu hasil pengakuan tahanan, " ungkapnya.
Jika cerita tingkat kerawanan, Kepulauan Meranti sangat rawan dalam peredaran Narkoba. Menurut La Ode Proyek, Kepulauan Meranti masuk urutan ke tiga terbesar dalam penindakan narkoba dari 12 kabupaten dan kota Provinsi Riau.
"12 kabupaten dan kota di Riau, kita menempati posisi ke tiga. Dan oenanganan tindak pidana narkoba kita melebihi target. Dan itu berdasarkan rapat evaluasi akhir 2018 lalu.
Apalagi di tingkat kecamatan. 9 kecamatan di Meranti rawan semua,"ungkapnya.
Menurutnya dari pengakuan tahanan Narkoba yang ia temui, berasal dari orang tidak mampu yang mengalami kesulitan ekonomi. Tidak pernah sekolah sehingga sulit untuk mencari kerja. Dan menjual Narkoba sebagai alternatif terbaik dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Menyikapi itu, makanya dalam menekan peredaran Narkoba di Kabupaten Kepulauan Meranti La Ode sangat berharap besar peran dari berbagai pihak.
"Disamping sosialisasi yang kita lakukan. Hal yang pertama benahi tingkat pendidikan, taraf ekonomi masyarakat. Jika itu tercover maka saya rasa peredaran narkoba di Meranti dapat ditekan," ungkapnya. (hms003)
Kategori
Topik
Bagikan