Permintaan Tinggi, Malaysia Kecanduan Kopi Liberita Meranti
Rabu, 13 Maret 2019. Waktu baca 2 menit 32 detik.
Permintaan Tinggi, Malaysia Kecanduan Kopi Liberita Meranti
MERANTI - Kopi Liberika Meranti sangat digemari masyarakat Malaysia sejak dulu. Bahkan, peminatnya pun cenderung meningkat setiap tahunnya. Kenyataan itu pula yang membuat para petani kopi di Kepulauan Meranti, khususnya di Pulau Rangsang tidak risau dengan pemasarannya.
Ketua Kelompok Indikasi Geografis (IG) Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM) Abdul Hakim mengatakan, penjualan kopi liberika Meranti sudah menembus pasar Malaysia sejak tahun 1980 silam. Hal itu dipengaruhi letak geografis antara Kecamatan Rangsang dengan Batu Pahat, wilayah distrik negara bagian barat Johor, Malaysia hanya 94,90 kilometer melintasi jalur internasional Selat Malaka.
“Ke Malaysia bisa ditempuh dengan waktu 2 jam. Cenderung lebih mudah ketimbang menuju Ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru yang menghabiskan waktu hampir setengah hari perjalanan," kata Hakim.
Menurut Hakim, harga beli untuk pasar Malaysia saat ini cenderung fluktuatif, namun cukup tinggi. Terlebih para pedagang besar yang membawa kopi liberika ke Malaysia tidak menyortir kopi yang dipanen petani. Baik itu buahnya berukuran besar, kecil atau tidak sengaja tercampur buah mentah.
“Semuanya merek angkut tanpa disortir terlebih dulu. Yang dijual ke Malaysia itu bukan standar Indikasi Geografis (IG) harganya hanya Rp.45 per kilo. Jika standar IG itu harganya bisa mencapai Rp.100 ribu," ungkap Hakim.
Lebih lanjut diungkapkan, sebanyak 90 persen kopi liberika Meranti ditampung pasar Malaysia, dan hanya 10 persen saja yang menembus pasar lokal. Pada tahun 2016 lalu, ekspor kopi liberika Meranti ke Malaysia mencapai 71 ton dalam bentuk green bean atau setara dengan 800 ton buah segar.
"Pengiriman yang kami lakukan melalui kapal lintas batas. Dalam satu tahun itu kita mengirim sebanyak dua kali, itu pun tergantung musim panen. Sekarang ini hasil panen menurun karena intrusi air laut. Dan, tahun 2018 hanya 45 ton," kata Abdul Hakim.
Melalui Balai Penelitian Tanaman Industri (Balitri) Kementerian Pertanian, kata dia, meminta kepada petani kopi Liberika Meranti untuk memasok kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton per bulan.
"Melalui Balittri kita pernah ditawarkan untuk memenui permintaan kopi ke luar negeri sebanyak 200 ton per bulan, kita tidak sanggup," kata Hakim.
Penolakan itu bukan tanpa alasan, menurutnya, untuk memenuhi permintaan tersebut, luas hamparan kebun kopi di Meranti harus 20.000 hektar.
"Bukan kita tak sanggup memenuhi permintaan itu. Untuk memenuhi permintaan 200 ton per bulan, kita harus memiliki luas kebun kopi sebesar 20 ribu hektar. Saat ini luas kebun kopi kita 1500 hektar. Untuk itu kita butuh lagi pengembangan," ujarnya.
Meski ramai dipasaran negeri jiran, dan pemintaan dari daerah lainnya, namun peminat kopi Liberika Meranti masih sepi di negeri sendiri. Butuh perjuangan panjang bagi kelompok tani kopi mempromosikan kopi asli Meranti itu.
"Kita sedang gencar-gencarnya lakukan promosi. Untuk itu, kita juga perlu dukungan dinas terkait untuk memasarkan kopi ini," kata Hakim.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkopukm), Mohammad Aza Fahroni mengatakan, terkait pemasaran kopi tersebut pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan MPKLRM.
"Mereka belum ada melapor ke dinas. Tapi nanti kita akan segera berkoordinasi dengan mereka dan mengimbau mereka untuk mengurus SKA," ungkap Azza, Selasa (12/3/2019).
Disperindagkopukm jufa akan membantu mengembangkan kopi tersebut melalui
Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM). Bahkan instansi tersebut juga akan membantu meningkatkan kualitas kopi tersebut.
"Dari segi kualitas masih kurang, untuk itu tahun ini akan kita bantu mereka mesin sortir," ungkap Azza. (Humas/002)
Kategori
Topik
Bagikan