Mi Instan Berbahan Sagu Juga Akan Diproduksi

Senin, 11 Maret 2019. Waktu baca 1 menit 52 detik.
image
Mi Instan Berbahan Sagu Juga Akan Diproduksi

MERANTI - Dengan menggunakan mesin berteknologi terkini, Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Sagu Sungai Tohor, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau akan memproduksi mi instan berbahan dasar tepung sagu. Tak tanggung-tanggung, ditargetkan produksinya sebanyak 300 Kilogram (kg) per hari.

 

"Dengan mesin berteknologi tinggi, nantinya Sentra IKM Sagu sungai tohor dapat memproduksi 300 Kg mi sagu instan setiap hari," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, koperasi dan Usaha Kecil Menengah, (Disperindagkop-UKM) Kepulauan Meranti, Mohammad Aza Fahroni.

 

Untuk tahap awal, target pasar masih didalam wilayah Kabupaten termuda di Provinsi Riau itu. Kemudian  secara perlahan akan menggaet distributor luar daerah dan negara luar yang dinilai potensial.

 

"Harus pelan namun pasti. Jika mi instan berbahan sagu ini dinilai bisa berkembang di pasar lokal, maka kita bisa pastikan akan disorot oleh pihak luar. Namun kita tetap berupaya untuk mencari celah agar pruduk mi sagu instan ini dapat digaet oleh distributor nasional maupun internasional, "ungkapnya.

 

Dalam menentukan pangsa pasar, saat ini Disperindagkop-UKM sedang menyusun konsep kemasan, berat packing, hingga penentuan harga persatuan. "Langkah itu sebagai penentu kualitas produk yang kita jual. Ini yang sedang kami susun konsepnya," ujar Aza.

 

Selain mi sagu intan, ia mengaku di Sentra IKM Sagu Sungai Tohor juga akan memproduksi mi sagu basah. Menurutnya keberadaan mi sagu basah oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti telah menjadi kuliner turun temurun yang mesti dikembangkan.

 

Dalam pengembangan mutu dan kualitas mi sagu yang akan diproduksi, Pemkab Meranti, telah melakukan uji kelayakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI.

 

Perekayasa di Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) BPPT, Bambang Hariyanto menjelaskan, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang sangat tinggi. Sehingga mi sagu tidak memiliki efek negatif bagi usus. Bandingkan dengan terigu yang kaya protein dan lemak memiliki sifat mengembang.

 

Sagu, kata Bambang, mengandung resistant starch yang bisa bertahan lama di usus. "Karena itu, sagu dapat menjadi Probiotik yang berguna untuk melancarkan pencernaan," tambahnya.

 

Dengan adanya bukti ini, keyakinan mengonsumsi terlalu banyak mi dapat berbahaya bagi usus pun terpatahkan.

 

Dengan mengonsumsi mi sagu secara rutin juga diyakini dapat menjaga kesehatan. Bahkan, ia memastikan manfaatnya akan terasa bagi para penderita diabetes sekalipun.

 

"Dari segi keawetan pun lebih lama dibanding mi instan berbahan dasar terigu jika disimpan dengan kadar air sama," terang Bambang. (humas/003)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti