Disparpora Siap Bumingkan Event Salam Idul Fitri
Rabu, 13 Maret 2019. Waktu baca 1 menit 39 detik.
Disparpora Siap Bumingkan Event Salam Idul Fitri
MERANTI - Dinas Pariwisata, Pemuda, dan 2 (Disparpora) Kepulauan Meranti tahun ini akan mengadakan Event Salam Idul Fitri 1440 H/2019 M.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan 2, Rizki Hidayat mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dirancang dengan baik. Selain untuk memeriahkan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1440 H/2018 M, kemeriahan umat Islam tersebut diyakini juga buming dan bisa menjadi wisata andalan Meranti saat malam Ramadan dan Idul Fitri.
Tidak hanya pawai takbir, tetapi juga digelar festival lampu colok, tradisi yang sudah turun-temurun. Dengan cara itu pula, maka tradisi masyarakat Melayu yang mulai hilang tersedot kemajuan zaman, bisa bangkit dan dikembangkan lagi.
Khusus pembukaan Festival Lampu Colok dilakukan pada malam ke-27 Ramadan. Sedangkan pawai takbir berlangsung pada malam hari raya.
''Yang jelas masalah teknis menunggu rapat nantinya. Rencananya, kita akan cari inovasi-inovasi supaya event ini lebih menarik dan kita usahakan event ini menjadi unggulan dan populer serta menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang ke Meranti dan berhari raya di sini, '' ungkap Rizki.
Niat mantan Camat Tebingtinggi itu, ternyata disambut baik warga. Bahkan, mereka berharap Pemkab Meranti rutin mendukungnya untuk digelar setiap tahun.
"Festival Lampu Colok memang harus bahkan wajib diadakan setiap tahunnya, karena ini tradisi kita. Kami selaku masyarakat berharap Pemkab Meranti bisa mengembangkannya menjadi lebih menarik lagi. Saya pikir, akan lebih menarik lagi jika seluruh desa diikutsertakan", kata Ujang, warga Insit.
Dicerita Ujang, lampu colok sudah ada dari dahulu. Bahkan, di setiap desa, para pemuda selalu membuat astaka atau lampu colok gambar masjid dan lainnya. Semuanya itu dilakukan secara mandiri, baik kelompok atau pribadi.
Tujuannya hanya untuk membuat suasana malam 27 Ramadan dan Idul Fitri menjadi meriah. Secara sukarela warga memasang lampu colok, walaupun mereka harus mengoyakkan kantong pribadi untuk membeli bahan dan minyak tanah. Namun sayang, perkembangan zaman membuat semuanya berubah. Kondiai ekonomi dan sulitnya mendapatkan minyak tanah membuat warga jadi cuek. Tradisi itu pu akhirnya perlahan hilang.
"Mudah mudahan Pemkab Meranti bisa mengadakan festival ini setiap tahunnya, '' kata Ujang saat dijumpai di salah satu kedai kopi Selatpanjang, Selasa (12/3/2019). (HUMAS/013).
Kategori
Topik
Bagikan