Agar Karhutla Tak Lagi Membakar Rumahnya, Andik Baso Rela Tidur Bawah Kolong
Jumat, 8 Maret 2019. Waktu baca 2 menit 26 detik.
Agar Karhutla Tak Lagi Membakar Rumahnya, Andik Baso Rela Tidur Bawah Kolong
MERANTI - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi sejak satu bulan terakhir, menimbulkan banyak kerugian. Terutama bagi warga yang terkena dampak kebakaran.
Seperti yang dialami Andik Baso (55), warga Dusun Mereng, Desa Tebun, Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti, misalnya. Tidak sedikit kerugian materil yang ia derita akibat Kerhutla. Jangankan kebun sagu, rumah tempat tinggalnya pun sudah dua kali dilalap si jago merah saat kebakaran hutan dan lahan melanda pada tahun-tahun sebelumnya.
"Susah nak dicakap. Kebun sagu yang telah saya rawat selama belasan tahun, hangus terbakar," ungkap Andik dengan wajah kecewa saat ditemui, Kamis (7/3).
Saat panas terik, tampak jelas berhektar-hektar perkebunan sagu yang tak lagi menghijau. Diselimuti asap dengan bau gambut yang khas begitu menyengat, tampak Andik Baso. Pria paroh baya itu, seakan tak pernah diam. Dengan sebilah cangkul dia terus berupaya menggali agar api yang melahap lahan agmbut dapat dipadamkan.
Pekerjaan itu secara terpaksa ia lakukan, karena Andi sudah merasa terancam. Apalagi lahan gambut yang terbakar itu hanya berjarak 4 meter dari rumahnya. Jika tidak segera dipadamkan, bisa-bisa menjalar ke rumahnya.
"Cara ini yang bisa dilakukan. Sumber air minim, tak bisa diandalkan untuk membasahi lahan gambut," ujar Andik.
Namuan, tidak semudah yang dibayangkan. Kemarau panjang membuat api terus berkobar. Untuk menjaga agar rumahnya tak ikut terbakar, Pak Andik lebih memilih tidur di kolong rumahnya. Cara itulah dia lakukan agar setiap saat bisa memantau api siang dan malam.
Kekhawatiran Pak Andik bukan tanpa alasan. Gara-gara Karhutla beberapa tahun silam, sudah dua kali rumahnya habis terbakar.
"Dua rumah saya terdahulu pernah hangus terbakar, makanya saya rela tinggal di kolong agar tak kehilangan tempat tinggal," terangnya.
Seakan begitu trauma dengan kejadian massa lalu, dia pun terus berjuang memadamkan api. Mulai siang hingga malam hari, aktivitas tersebut ia lakukan sendirian. Karena jika tidak, kejadian sama diyakini akan terukang. Demi menyelamatkan tempat tinggal, dia juga harus rela bergadang, dan hanya bisa tidur sejenak, saat pagi hari.
Pria kelahiran Sulawesi itu tak kuasa menghitung jumlah kerugian yang dideritanya saat ini. Perkebunan sagu seluas 20 hektar tempatnya menggantung hidup, kini hangus dilahap api. Batang sagu yang siap dipanen, tak lagi laku terjual karena rusak terbakar. Ia berharap perhatian dari pemerintah agar mampu membantu meringankan beban yang dideritanya.
"Saya hanya berharap belas kasihan dari pemerintah. Untuk memberikan bantuan agar bisa bangkit kembali. Butuh waktu belasan tahun agar sagu kembali menghasilkan," pungkas andik.
Tak hanya andik, sejumlah warga sekitar juga ikut merasakan kerugian. Selain terganggu dengan kabut asap, kebakaran juga menghanguskan perkebunan sagu, karet dan kelapa milik warga.
"Kita belum bisa mendata dengan pasti, namun puluhan hektar lahan warga diperkirakan hangus di lalap api," sebut Pj. Kades Tebun, Syahroni.
Saat ini, pihaknya masih fokus membantu BPBD, TNI, Polri, untuk melakukan upaya pemadaman. Sedangkan untuk pemulihan lahan yang terbakar, desa telah membuat usulan ke instansi terkait.
"Kita telah mengusulkan bantuan bibit sagu sebanyak 18 ribu batang. Jika nantinya bisa disetujui Dinas Perkebunan dan Hortikultura Kepulauan Meranti, tentu akan bisa membantu warga untuk merestorasi kembali lahan sagu yang terbakar," pungkas Syahroni.(Humas-006).
Kategori
Topik
Bagikan