10 Pendekar Meranti Jajal Kekuatan di Singapura
Rabu, 7 Agustus 2019. Waktu baca 2 menit 43 detik.
10 Pendekar Meranti Jajal Kekuatan di Singapura
MERANTI--Meski tidak mendapat dukungan materil dari Dinas Pariwisata Pemuda dan 2, 10 orang atlet silat (pendekar) dari Kepulauan Meranti, Rabu pagi (7/8/2019), tetap diberangkat ke Singapura melalui Kota Batam, Kepulauan Riau. Didampingi dua pelatih dan satu ofisial, mereka akan menjajal kekuatan pada Singapura Open ke-7 tahun 2019.
Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kepulauan Meranti, Riau, Rony Samudra mengatakan, Singapura Open merupakan ajang uji coba paling bergengsi pesilat dunia, selain Belgia yang telah berlangsung pada Maret lalu. Pasalnya, sangat banyak atlet silat dunia, seperti Malaysia, Vietnam, Thailan, Cina Taipei dan pesilat-pesilat tangguh dari sejumlah negara lainnya yang ikut dalam ajang tersebut.
Meski sadar benar bahwa tidak mudah menjadi terbaik di antara pesilat dunia. Apalagi mengalahkan Singapura yang setiap tahun selalu menurunkan atlet nasional. Namun, mereka akan berupaya semaksimal mungkin agar 10 atlet berprestasi yang mereka kirim dapat mengharumkan nama daerah dengan membawa pulang medali.
"Kalau harapan tentu banyak, namun kita tidak mau sesumbar. Yang penting mereka bisa menambah jam terbang di sana dan pulang bawa medali. Apalagi dari 10 atlet yang ikut tersebut, empat diantaranya merupakan kebanggaan Meranti yang telah lulus pra PON", ucap Rony.
Dia juga mengaku bahwa keikutsertaan atlet binaan IPSI Meranti di ajang Singapura Open bukanlan yang pertama. Tahun 2018 lalu, satu dari pendekar dari tanah jantan ini bahkan mampu masuk babak final setelah mengalahkan lawan-lawannya dari negara lain.
"Tahun lalu atlet kita masuk final dan berhasil menyabet medali perak untuk kelas D usia dini. Tahun ini kita diundang lagi dan mudah-mudahan bisa mendapatkan hasil yang lebih baik", ucap Rony Samudra.
Hal senada juga disampaikan Kepala Biro Pembinaan Prestasi IPSI Meranti, Syawaludin. Menurut dia, keikutsertaan Meranti ternyata sangat diperhitungkan oleh sejumlah negara. Selain pernah masuk final, tahun ini Federation Silat Singapura selaku penyelengara juga meminta Meranti menampilkan pesilat berusia 5 tahun pada ajang eksebisi. Permintaan khusus ini sebagai motifasi bagi pesilat dunia yang akan menguji kekuatan mereka nantinya.
"Selain itu, ajang Singapura Open ini dapat menguji kemampuan empat atlet menjelang pra PON di Bengkulu nantinya. Semoga saja mereka berhasil dan mendapatkan pengalaman bertanding yang baru bersama para pendekar dari sejumlah negara", ucap Syawaludin.
Sementara itu, Manajer Tim, Sugito yang turut didampingi pelatih Dodi menjelaskan, meski tidak sempat melakukan seleksi, pihaknya tetap melakukan persiapan yang matang terhadap atelet yang diterbangkan ke Singapura. Bahkan, 10 atlet tersebut telah digembleng selama 2 minggu dalam latihan.
"Memang kendalanya tak sempat seleksi, karena waktu yang sangat terbatas. Tapi, atlet yang kita utus berdasarkan hasil rembuk dan melihat kemampuan dan prestasi selama ini. Artinya, yang kita utis bukan atlet sembarangan", pungkas Sugito.
Ketika disinggung mengenai biaya keberangkatan yang cukup besar, Sugito hanya bisa menarik nafas panjang. Menurut dia, dari estimasi biaya proposal yang mereka ajukan 99,9 persennya malah ditanggung IPSI Meranti. Selebihnya oleh pihak swasta dan para donatur yang tidak mau disebutkan namanya.
Walaupun tidak mendapat dukungan dari Pemda melalui instansi terkait, dia tetap bersyukur karena masih bisa berbuat untuk daerah. "Kalau dukungan memang belum ada. Tapi itu bukan masalah bagi kami untuk berbuat mengharumkan nama daerah. Kami hanya berharap kepada seluruh masyarakat Meranti agar mendoakan kami selamat sampai dan pulang bawa medali", harap Sugito.
Pada ajang Singapura Open Ke-7 tahun ini, 10 atlet binaan IPSI Meranti tersebut akan ikut pada seni tunggal putra-putri dan laga
dari usia dini hingga dewasa. Menurut Dodi, sang pelatih, kelas yang diperlombakan seperti singa man, usia dini, pra remaja, dan dewasa.(Humas/018)
Kategori
Topik
Bagikan