Sagu Meranti Sebagai Penyedia Pangan Karbohidrat

Jumat, 4 Januari 2019. Waktu baca 7 menit.
image
Sagu Meranti Sebagai Penyedia Pangan Karbohidrat

KEPULAUAN MERANTI - Menjadi daerah penghasil sagu, membawa keberkahan tersendiri bagi Kabupaten Kepulauan Meranti. Di daerah termuda se Riau ini, sagu tak hanya dibuat kue atau makanan ringan, tetapi juga bisa diolah menjadi mie instan dan beras analog (beras sagu).

 

Kabid Ketahanan Pangan DKPTPP, Ifwandi, mengatakan saat ini Meranti sedang mengarah ke produksi beras analog (beras sagu). Untuk mengolahnya, Meranti dapat bantuan 3 unit mesin dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kemen Ristek Dikti dan Anggota DPR RI Sayed Assegaf.

 

Untuk mengolah beras analog, dibutuhkan tepung sagu. Bahan dasar tersebut hingga saat ini sudah banyak diproduksi di Kepulauan Meranti. Hanya saja, perlu dibuat kesepakatan agar produksi tepung sagu dari Meranti tak semuanya dijual keluar daerah.

 

"Kita juga akan berupaya mengolah sagu menjadi tepung, khusus untuk memenuhi kebutuhan UMKM," ujar Ifwandi.

 

Berdasarkan data dari DKPTPP, luas lahan budidaya sagu di Kepulauan Meranti 42.130 Ha, tersebar di 9 kecamatan. Dengan perkiraan hasil mencapai 284.873 ton pertahun. Di kabupaten termuda se Riau ini, terdapat 67 kilang sagu, dan 99 IKM mengolah sagu menjadi beberapa produk turunan. "Kalau untuk beras analog, sedang ada upaya ke sana," jelas Ifwandi.

 

Saat turun ke Kepulauan Meranti akhir tahun 2018 lalu, Bambang Hariyanto, Peneliti Utama  (BPPT), memaparkan dan menjelaskan bahwa beras sagu lebih sehat dan baik dikonsumsi oleh masyarakat. Terutama bagi yang memiliki penyakit diabetes.

 

Diceritakan Bambang, hasil pengamatan terhadap pola konsumsi pangan masyarakat di Propinsi Riau sepanjang tahun 2017, menunjukkan bahwa konsumsi pangan masyarakat didominasi biji-bijian (beras), lemak, dan minyak. Pola konsumsi ini ditengarai cenderung menjadi pencetus penyakit tidak menular, sebagaimana diperlihatkan oleh  angka penderita Diabetes Mellitus (DM) tahun 2017 yang tercatat sebesar 1,2 persen atau setara dengan 74.261 jiwa penduduk.

 

Data statistik kesehatan versi WHO tahun 2004 menyebutkan penderita diabetes mellitus di Indonesia tercatat sejumlah 8,4 juta jiwa menduduki urutan keempat setelah Amerika. Pada tahun 2030, diperkirakan penderita DM di negeri ini akan menembus angka 21.257.000 jiwa dengan angka pertumbuhan yang sangat mencemaskan yakni 152 persen per tahun. Sebagai pemicu makin banyaknya penderita DM akibat pola hidup umumnya dan pola makan khususnya yang kurang sehat.

 

Nenek moyang di Provinsi Riau ini sudah mengajarkan bahwa kondisi tanahnya umumnya kurang sesuai untuk tanaman padi sebagai penghasil beras karena banyak tanah bergambut dan terdiri dari banyak kepulauan.  Secara alami sagu telah tumbuh subur sebagai penyedia pangan karbohidrat, namun tanaman sagu banyak tergusur oleh tanaman lain, terutama sawit. Zaman terus bergerak dan pola makan telah berubah dan hampir sebagian besar penduduk di Provinsi Riau mengkonsumsi nasi sebagai pangan pokoknya. Beralihnya polah pangan pokok dari non beras ke beras ini memberi konsekuensi untuk selalu harus menyediakan beras.

 

Karena daya dukung Provinsi Riau untuk menghasilkan padi kurang mendukung maka beras didatangkan dari luar Provnsi. Catatan tahun 2015 menunjukkan bahwa di provinsi Riau mendatangkan beras sebesar 481.201 ton, akibat selisih produksi beras 247.144 ton sedangkan konsumsi 728.345 ton (BPS, 2015).  Diperkirakan tahun-tahun mendatang Kabupaten Kepulauan Meranti akan terus terjadi deficit beras akibat tidak seimbangnya antara produksi dan konsumsi.

 

Bagi provinsi Riau, sagu memiliki peran penting karena memang sagu cocok dapat tumbuh di tanah yang agak masam dan secara soisologis masyarakat  sudah terbiasa mengkonsnsumsi sagu. Pada bulan Oktober 2016 telah disampaikan juga tentang adanya deklarasi pangan berbasis sagu oleh Gubernur Riau dan ujungnya akan diterbitkan edaran tentang "one day eat sago".  Tentu hal ini menjadi langkah awal untuk lebih membumikan sagu di negeri leluhur.

 

“Pastinya saat ini cara penyajian sagu diperlukan adanya inovasi dan tidak mengandalkan produk yang sudah tersedia. Salah satu inovasi dalam pengembangan sagu adalah pengenalan beras sagu, yaitu beras yang dibuat dari pati sagu dan bentuknya mirip dengan bulir–bulir beras. Beberapa keungulan beras sagu terletak di kandungan korbohidrat kompleks dan memiliki indeks glikemik (IG) rendah sehingga memiliki keunggulan sebagai penyedia karbohidrat pendamping beras,” terangnya.

 

Bambang mengatakan, yang dimaksud IG adalah ukuran kecepatan pati diubah menjadi gula  dalam darah. Selain itu sagu juga bebas gluten (gluten free) sehingga sagu layak disebut sebagai pangan sehat. Bila beras sagu ini dapat dikenalkan masyarakat khususnya di Provinsi Riau maka akan memiliki dampak untuk memperkecil angka kematian akibat diabetes.

 

Seiring dengan perubahan iklim, alih fungsi lahan sawah dan mahalnya biaya untuk menyiapkan infrastruktur pendukung usaha tani padi, ditambah dengan produktivitas padi yang telah maksimal dan harga produksi dikendalikan, maka produksi padi semakin mahal biayanya. Tanaman Sagu mampu mengambil peran sebagai tanaman penyesuai terhadap keterbatasan tanaman padi sebagaimana selama ini dijadikan sumber penghasil karbohidrat. Beberapa hal yang menguatkan bahwa sagu layak untuk terus dikembangkan.

 

Pertama tanaman sagu merupakan penyedia karbohidrat terbesar dibanding penghasil tanaman karbohidrat lain. Produksi pati sagu setiap hektar (ha) dapat mencapai 15 ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tanaman padi yang hanya 7 ton, jagung 5 ton, ubi kayu 12 ton (Ishizaki, 1997).  Bila luas hutan sagu di Papua 2 juta ha, maka potensi untuk menghasilkan sagu per tahun sebesar 30 juta ton pati dan hampir sama dengan produksi gabah yang membutuhkan lahan subur 12 juta ha lebih.  Oleh sebab itu, sagu menjadi potensi penyedia pangan karbohidrat yang handal, namun belum banyak diperhatikan.

 

Kedua, kandungan sagu miskin gizi artinya kadar protein dan lemaknya rendah sehingga untuk makan sagu dalam bentuk sagu murni (papeda) misalnya meski lauknya ikan ekor kuning sebagai kelengkapannya. Karena miskin gizi ini, pati sagu akan tahan disimpan bertahun-tahun. Oleh sebab itu, Negara Cina sudah memesan pati sagu dari Indonesia setiap bulan minta pasokan 250 ribu ton. Pati sagu disimpan sebagai cadangan pangan maupun untuk energi.

 

Ketiga, sagu mengandung karbohidrat kompleks, sehingga bila pati sagu dikonsumsi akan menghasilkan resistant starch (RS) yang baik untuk usus sehingga dapat mencegah terjadinya kanker usus. Selain itu karena RS sagu tinggi maka karbohidrat diubah menjadi gula secara perlahan sehingga menghasilkan Indeks Glikemik (IG) rendah, sehingga baik untuk para penderita diabetes. Karbohidrat yang mengandung IG rendah ini sangat penting karena Indonesia memiliki penduduk yang menderita diabetes terbanyak ke-4 di dunia. Dengan demikian sagu ini menjadi baik untuk kesehatan (Haryanto, 2015).

 

Keempat, tanaman sagu ini merupakan tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim yang saat ini sering melanda Indonesia dan dunia.Tanaman ini tahan kekeringan maupun kebanjiran.

 

Kelima, tanaman sagu dapat menyerap CO2 terbesar dibanding tanaman lain sehingga baik untuk menyerap polusi di kota-kota besar. Besarnya polusi sebagai indikasi tingkat modernitas suatu negara. Di sini sagu dapat berfungsi sebagai penyerap karbondioksida (Haska, 2011).

 

Keenam, tanaman sagu ini memiliki keberlanjutan yang paling tinggi dibanding tanaman lain sehingga tanaman sagu tidak perlu di-replanting (peremajaan), dan tahan terhadap perubahan iklim. Saat ini perubahan iklim sangat kentara dan terjadi musim yang tidak menentu dan akan mengganggu siklus suatu tanaman.

 

Ketujuh, tanaman ini dapat dikelola dalam segala ukuran produksi mulai dari skala rumah tangga, skala kecil, menengah, dan skala besar. Kedelapan, pati sagu dapat disimpan lama karena miskin gizi serta tidak mengandung gluten yang saat ini banyak digunakan bagi anak autis.

 

Dengan mengelola tanaman sagu secara baik maka ketersediaan pangan karbohidrat akan terjaga dan terjadinya perubahan iklim dapat diantisipasi dengan baik. Alangkah sayangnya bila potensi sagu di Riau ini tidak dikelola secara maksimal karena pihak asing sudah banyak yang mengincar demi ketersediaan pangan di Negaranya dalam menghadapi perubahan iklim.

 

Untuk mengoptimalkan peran sagu sebagai bahan komoditi penegak kedaulatan pangan, pangan sehat dan tanaman penyedia karbohidrat, diperlukan dukungan regulasi disertai konsistensi strategi sebagai prasyarat. Guna menciptakan pasar lokal permanen untuk menampung hasil olahan pangan berbahan baku sagu terutama "beras sagu", dapat ditempuh dengan menggunakan kebijakan daerah dengan berbagai skenario. Misalnya setiap Aparatur Sipil Negara (ASN), di Provinsi Riau diberi jatah beras sagu 10 kg (jatah beras dari Pemerintah 40 kg). Bila jumlah ASN di prov Riau sebesar 7800 orang, maka kebutuhan beras sagu per bulan mencapai 10 x 7880 = 78800 kg atau 78,8 ton. Setahun membutuhkan 12 x 78,8 ton = 945,6 ton atau sekitar 1.000 ton.

 

Penyediaan 1.000 ton beras sagu ini juga akan menggerakkan perekonomian masyarakat penghasil sagu maupun kegiatan lain. Dampak lain yang akan diperoleh adalah masyarakat Riau semakin sehat karena beras sagu memiliki IG rendah dan menyehatkan. Dengan demikian biaya untuk berobat semakin kecil dan masyarakatnya lebih produktif. Bila hal yang sama juga dilakukan ditingkat Kabupaten se-Provinsi Riau maka dampaknya akan terlihat beberapa tahun kemudian. Bila masyarakat Riau telah sadar dan bangga mengkonsumsi sagu, maka itulah saatnya sagu mulai membumi di negeri lancang kuning (sebutan Provinsi Riau). Manakala Riau sudah memanfaatkan sagu sebagai pendanping pangan beras sebagai sumber karbohidrat maka disitulah sagu akan dipandang sebagai pangan strategis.

 

"Demikian sagu sebagai penyedia pangan karbohidrat yang berkelanjutan manakala dikelola secara baik dan tindakan nyata dalam rangka mendukung sagu menyapa dunia maka sagu Meranti merupakan sentra produksi sagu sejak lama dan suatu saat akan menjadi pangan strategis," kata Bambang optimis. (humas001)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti