Repu Sagu Potensi Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Selasa, 12 Maret 2019. Waktu baca 2 menit 25 detik.
image
Repu Sagu Potensi Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

MERANTI - Limbah padat sisa pengolahan sagu berupa ampas yang lebih dikenal masyarakat Meranti dengan istilah repu saat ini sudah bisa dipasarkan.

Bahkan, permintaan akan kebutuhan repu tersebut mencapai 3000 ton per bulannya. Repu yang selama ini menjadi persoalan akan ditampung oleh pengusaha ternak untuk pakan sapi di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Hal tersebut sangat berpotensi meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang selama ini terkena dampak limbah di sekitar areal kilang sagu.

Pelatihan pemberdayaan ekonomi masyarakat itu akan dibahas di dalam seminar ekonomi kerakyatan pada Kamis (14/3/2019) mendatang. Seminar yang mengangkat tema menciptakan soliditas dan sinergitas dalam meningkatkan pemberdayaan ekonomi rakyat menuju masyarakat madani ini, digelar oleh Koperasi Hang Tuah Meranti yang bekerjasama sama dengan Disperindag, DLH, dan Dinsos P3AP2KB. Dalam seminar tersebut menghadirkan narasumber dan pakar seperti penasehat KAHMI, Zahirman Zabir, Ketua HIPPI, Jhon Santri, Kepala Disperindagkopukm, Azza Fahroni dan ketua DPRD Kepulauan Meranti, H Fauzi Hasan.

Ketua Koperasi Hang Tuah Meranti, Dr Misri Hasanto mengatakan, repu yang selama ini hanya menimbulkan persoalan sebenarnya bisa meningkatkan taraf ekonomi dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pihaknya pun sudah melakukan penjajakan, repu itu dijual kepada peternak di Pulau Jawa.

"Kita sudah melakukan penjajakan beberapa waktu lalu. Dimana repu yang menjadi limbah akan ditampung oleh peternak di Ciganjur untuk pakan sapi. Mereka membutuhkan 3000 ton per bulan. Saat ini, sebanyak 100 ton repu sudah kita press dan dipacking untuk segera dikirim," ungkap Misri.

Sekretaris Dinsos P3AP2KB itu juga mengatakan, seminar itu nantinya akan melatih masyarakat di sekitar areal kilang sagu untuk memanfaatkan repu. Setelah ditampung, kemudian baru dikirim ke Pulau Jawa.

"Seminar yang dilakukan nanti adalah untuk membuka pikiran banyak orang bahwa repu ini sebenarnya menghasilkan uang. Kita akan latih masyarakat yang terkena dampak limbah. Tahap awal kita jadikan relawan dan kita berikan alat dari UGM untuk mengolah repu agar kadar air menjadi 15-20 persen seperti permintaan dari sana," ungkapnya.

Berdasarkan penelitian mereka, kandungan nutrisi pada repu terutama protein kasar terhitung rendah berkisar antara 2,30-3,36 persen. Namun, pati dalam ampas sagu masih cukup tinggi, mencapai 52,98 persen.

Selama ini, puluhan ton repu yang dihasilkan pabrik sagu dibuang percuma. Hasil ekstraksi limbah dibuang begitu saja oleh pengusaha ke aliran sungai, karena tidak mampu diolah. Kebiasaan buruk Ini tentunya mempengaruhi kondisi lingkungan perairan di Meranti.

"Repu yang awalnya tidak berguna dan merusak lingkungan ternyata nilai jualnya tinggi. Inilah yang dinamakan limbah menjadi berkah. Untuk itulah seminar ini dimunculkan. Dukungan semua pihak sangat kita harapkan," ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kepulauan Meranti Hendra Putra sangat mengapresiasi hal tersebut. Menurut dia, langkah yang dilakukan untuk menyuplai repu sebagai pakan ternak ke Pulau Jawa sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan limbah yang selama ini terjadi.

"Sangat bagus, ini merupakan salah satu langkah untuk mengatasi limbah sagu yang mencemari lingkungan dan perairan Meranti. Kita sangat bersyukur ada pihak yang menjadi agen untuk memanfaatkan limbah ini. Kedepannya agar bisa berkoordinasi dengan DLH, supaya kita bisa menjembatani kedua belah pihak," ungkap Hendra. (Humas/002)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti