Pulau Rangsang Yang Tak Berhenti Berjuang
Rabu, 7 Agustus 2019. Waktu baca 3 menit 25 detik.
Pulau Rangsang Yang Tak Berhenti Berjuang
MERANTI - Kondisi beberapa kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga dari tahun ke tahun terus semakin baik, namun tidak demikian dengan Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Secara geografis, hamparan wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari empat pulau. Mulai dari Pulau Merbau, Tebingtinggi, Pulau Topang, serta Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Meski hanya dipisahkan oleh laut dengan negeri jiran Malaysia yang dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam saja menggunakan Kapal Verri, mungkin perasaan malu akan terpancar di wajah karena perbedaannya. Mulai dari fasilitas jalan, listrik, dan infrastruktur lainnya, semuanya jauh berbeda.
Pulau Rangsang sampai kini masih bernasib tragis dan seakan menangis karena setiap hari terkikis dihempas ombak Selat Malaka. Sebagai wilayah pulau kecil terluar sangat butuh dan harusnya mendapatkan perhatian besar.
Selain memiliki areal persawahan terbesar di Meranti yang dibangun beberapa tahun laku bersama TNI, Pulau Rangsang juga tercatat sebagai penghasil salah satu komoditi yaitu Kopi Liberika. Bahkan, kopi jenis ini telah mampu menembus pasar internasional seperti Malaysia dan Korea. Karenanya, masyarakat Pulau Rangsang sangat mendambakan pembangunan infrastruktur yang lebih memadai sehingga dapat memperlancar pendistribusian hasil panen di sana untuk dibawa keluar daerah.
Ali Amrun (45), warga Desa Sungai Cina yang juga Sekretaris FKDM Kab. Kep. Meranti mungungkapkan, dirinya sangat merasa prihatin atas kondisi Pulau Rangsang yang setiap tahun mengalami abrasi akibat diterjang ombak Selat Malaka. Ia berharap kondisi bibir pantai di pulau tempat tinggalnya itu mengalami perubahan dengan dibangunnya turap atau jeronjong dengan batu pemecah ombak sehingga abrasi dapat dicegah meski sedikit.
Menurut Ali Amrun, kalau kondisi abrasi terus berlangsung tanpa ada upaya pemerintah untuk mengatasinya, sampai berapa lama Pulau Rangsang akan bertahan. Sebab, setiap hari pulau tersebut terus habis terkikis ombak.
Hal senada juga disampaikan oleh Hendrik TM (38), warga Desa Tanah Merah. Menurutnya, saat ini pemerintah sudah memperhatikan kondisi abrasi di Pulau Rangsang. Selama ini kondisi beberapa desa seperti Desa Tanah Merah, Kedabu Rapat dan Melai sangat memprihatinkan. Bahkan antara jalan poros kabupaten ke bibir pantai hanya tinggal berjarak beberapa ratus meter saja.
Hendrik bersyukur, meski secara bertahap pemerintah sudah mulai membangun bronjong atau batu pemecah ombak di Desa Tanah Merah, dan hasilnya lumayan. Meski ombak besar terus menerpa setiap musim Utara, tetapi abrasi disekitar beronjong tidak lagi sedahsyad dulu.
"Mudah-mudahan pembangunan beronjong ini akan terus dilanjutkan sehingga kebun kelapa serta kebun kopi masyarakat dapat terselamatkan", harap Hendrik.
Kalau kita kilas balik ke masa silam, Pulau Rangsang juga pernah sebagai salah satu daerah penghasil kelapa dengan hamparan yang cukup luas. Sayangnya, keadaan itu sudah berubah, karena saat ini hamparan kebun kelapa sudah banyak mati akibat digenangi air laut setiap tahun.
Pasang keling namanya, terjadi setiap tahun pada bulan Desember. Dimana gelombang laut Selat Malaka saat itu bisa mencapai setinggi 3 meter dan menghempas bibir pantai, lalu menggenangi sebagian daratan. Dan itu selaku terjadi dikarenakan belum adanya infrastruktur pemecah ombak.
Adapun sarana 7 antar pulau dalam Kabupaten Kepulauan Meranti, meski belum representatif, tapi " kempang" adalah kendaraan laut yang paling utama saat ini. Masyarakat menyebutnya kempang, sama seperti sampan tetapi memiliki lantai datar dengan penutup belakang yang dapat dibuka dan ditutup agar kenderaan roda dua bisa naik dengan mudah, ya..! mirip roro, tapi ukurannya jauh lebih kecil.
Sedangkan untuk 7 antar-kabupaten terdapat 3 unit speed boat, 1 unit Kapal Verri dan 1 unit Roro, dengan route keberangkatan dari Buton, Kabupaten Siak menuju Insit, Kabupaten Kepulauan Meranti. Fasilitas ini dapat melayani penumpang setiap hari, pagi dan siang.
Alangkah arif dan bijaksananya kalau pemerintah dapat mengalokasikan anggaran membangun jembatan untuk menghubungkan Selatpanjang sebagai ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti dengan Pulau Rangsang, kemudian dari Kecamatan Tebingtinggi Barat di Pulau Tebingtinggi dengan Desa Semukut di Pulau Merbau, serta dari Desa Ketapang Permai di Pulau Merbau ke Desa Pelantai di Pulau Padang.
Perhatian pemerintah terhadap daerah perbatasan sebagai beranda terdepan bangsa sangat dibutuhkan. Apalagi wilayah tersebut merupakan point penting dalam persoalan ketahanan dan keamanan negara, sehingga betul betul terjaga kedaulatan Bangsa.
Semoga hitungan untung rugi tidak menjadi kendala dalam mewujudkan pembangunan wilayah pulau terluar yang merupakan beranda terdepan bangsa, dan jiwa patriotisme dan Nasionalisme serta kebanggaan masyarakat di perbatasan sebagai anak bangsa senantiasa utuh juga semakin membara. Jayalah Bangsa ku, Hidup Indonesia ku.!.(Humas/007).
Kategori
Topik
Bagikan