Pengrajin Anyaman Pandan Sulit Dapatkan Bahan Pewarna
Kamis, 2 Mei 2019. Waktu baca 1 menit 57 detik.
Pengrajin Anyaman Pandan Sulit Dapatkan Bahan Pewarna
MERANTI - Usai dibuka Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Said Asmaruddin, pelatihan kerajinan anyaman se-Kepulauan Meranti Tahun 2019 yang digelar Dinas Pariwisata Pemuda dan 2 (Disparpora) Kepulauan Meranti, bertempat di Aula AKA Meranti Hotel, hingga Selasa (30/4/2019) siang terus berlanjut. Dan, tampak sebanyak 27 peserta dari 9 kecamatan dengan tekun beraktifitas memperagakan cara menganyam.
Deswati, seorang peserta pelatihan asal dari Desa Nipah Sendanu, Kecamatan Tebingtinggi Timur menuturkan bahwa ia merupakan salah seorang anggota kelompok pengrajin yang masih bertahan di desanya. Dulu, di desanya terdapat dua kelompok pengrajin, tapi karena sulitnya memasarkan karya yang sudah dihasilkan, membuat satu kelompok tidak mampu bertahan sehingga bubar.
Selain pemasaran, pengrajin anyaman di desanya juga terbentur sulitnya bahan pewarna untuk pandan. Sebab, bahan pewarna tersebut harus didatangkan dari Jogjakarta.
Sampai saat ini, kata Deswati, kelompok pengrajin anyaman di desanya masih menggunakan cara tradisional. Jumlah anggota pun terus berkurang disebabkan minimnya minat generasi muda menekuni profesi sebagai pengrajin.
"Mudah-mudahan melalui pelatihan ini akan bertambah lagi pengrajin-pengrajin baru dari generasi muda sehingga usaha anyaman tidak punah. Dan, kalau bisa makin berkembang", ungkapnya pula.
Hal senada juga disampaikan oleh Masniar, anggota kelompok pengrajin anyaman asal Desa Nipah Sendanu. Dia khawatir tidak ada lagi penerus mau melakoni ketrampilan yang sudah diwariskan dari pendahulu.
Ibu yang akrab disapa Niar itu mengatakan,
kelompoknya tidak hanya terkendala bahan pewarna. Dalam mengembangkan usaha anyaman, mereka juga kekurangan alat untuk melurut pandan hingga bisa dianyam menjadi berbagai produk.
Selama ini, produk yang pernah dihasilkan kelompoknya berupa tas, tudung saji, kipas, kotak tisu, sajadah, taplak meja, kantong hp dan tikar sesuai pesanan. Bahkan, selembar tikar yang mereka hasilkan pernah terjual seharga RM.150 (seratus lima puluh Ringgit malaysia). Dan, pemesannya pun menyatakan sangat tertarik terhadap tikar hasil anyaman dari Meranti.
Kadis Perindagkop UKM Kabupaten Kepulauan Meranti, M. Azza Faroni sangat mendukung adanya kegiatan kelompok pengrajin anyaman pandan tersebut. Bahkan, pihaknya siap membantu mempromosikan
produk yang dihasilkan kelompok pengrajin tersebut di gedung promosi milig Disperindag.
"Kalau kelompoknya banyak, dapat juga kita bantu pelatihan", tuturnya.
Sementara itu, Kepala Disparpora Meranti, Rizki Hidayat berharap, seluruh peserta yang sudah mengikuti pelatihan dapat lebih berkreasi dalam menghasilkan karya anyaman daun pandan ini. Apalagi jika kelompok anyaman daun pandan ini dapat memproduksi hasil yang memiliki kreatifitas tinggi, tentunya nilai jual juga akan melambung.
"Hal terpenting lagi adalah seluruh peserta yang sudah mengikuti pelatihan ini dapat berbagi ilmu kepada generasi muda di lingkungannya nanti", harap Rizki.(humas/007)
Kategori
Topik
Bagikan