Meranti Dapat Bantuan Mesin Pengolah Sagu
Kamis, 3 Januari 2019. Waktu baca 3 menit 39 detik.
Meranti Dapat Bantuan Mesin Pengolah Sagu
KEPULAUAN MERANTI - Kalau tak ada halangan, tahun ini (2019) di Kepulauan Meranti akan dibangun pabrik pengolah sagu menjadi tepung. Hasil olahan itu dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan bahan dasar bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) setempat.
Keluhan akan sulitnya mendapatkan bahan baku (tepung sagu) pernah disampaikan beberapa perwakilan UMKM. Kata mereka, meski Kepulauan Meranti penghasil sagu, namun untuk mendapatkan tepung yang bagus tidak lah mudah. Sebab, rata-rata tepung sagu produksi Kepulauan Meranti telah dibeli pengusaha dari luar wilayah Provinsi Riau, salah satunya Cirebon.
Kabid Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Peternakan (DKPTPP) Kabupaten Kepulauan Meranti, Ifwandi, membenarkan hal itu. Menurutnya, dalam mencukupi bahan baku tepung sagu untuk UMKM, memang menjadi kendala. Sebab, yang ada di kilang telah dikuasai pedagang Tionghoa.
"Itu memang menjadi kendala kita. Untuk bahan baku, banyak tapi dikuasai Cina (Tionghoa)," ungkapnya, Rabu (2/1/2019).
Pengusaha dari luar provinsi memberikan uang ke pemilik kilang. Mereka memesan semua tepung berkualitas baik. Tepung-tepung itu juga dibutuhkan UMKM lokal, terutama untuk membuat mi sagu.
Meski demikian, tambah Ifwandi, DKPTPP sudah punya upaya antisipasi. Melalui Dinas Ketahanan Pangan Riau, mereka mengajukan ke Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), bantuan mesin pengolah sagu menjadi tepung sagu (sagu kering).
"Tahun ini baru akan dibangun. Dananya sekitar Rp 500 juta, bantuan dari BKP Kementan," bebernya.
Nantinya, kata Ifwandi, mesin pengolah sagu itu akan dikelola kelompok UMKM. Seluruh hasil olahan harus dijual untuk memenuhi kebutuhan lokal. Yang mana, dari semua UMKM, membutuhkan sekitar 100 ton sagu setiap tahunnya.
Ketua Asosiasi UMKM Kepulauan Meranti, Amrul Rizal menyambut baik upaya dari DKPTPP itu. Ia berharap bantuan yang diberikan harus tepat sasaran. Agar, niat awal membantu UMKM dalam memenuhi bahan dasar sagu bisa berjalan sebagaimana harapan bersama.
"Sebelum menyalurkan bantuan, dinas terkait diharapkan terlebih dahulu berkoordinasi. Berikan bantuan tersebut ke UMKM yang aktif dan mengantongi izin. Ini menjadi pemicu bagi UMKM lain untuk melengkapi izinnya," harapnya.
Amrul mengakui, di asosiasi yang ia pimpin, ada sekitar 32 UMKM aktif dan rutin mengolah berbagai panganan berbahan dasar sagu. Sebagian besar sudah mengantongi izin.
"Ada beberapa UMKM yang dalam tahap pengurusan izin. Target kita 2019 ini semuanya sudah selesai," kata Amrul. *
DLH Dapat Bantuan Alat Berat dan Gerobak Motor
KEPULAUAN MERANTI – Pada Tahun ini (2019), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kepulauan Meranti dapat bantuan alat berat dan gerobak motor. Alat ini akan dimaksimalkan untuk mengatasi masalah sampah di Kota Sagu.
Kepala DLH Kepulauan Meranti, Hendra Putra SIp MSi mengatakan, selama ini dinas yang ia pimpin belum memiliki alat berat. Sehingga, penanganan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Desa Gogok tak bisa maksimal. Tak jarang pula sampah menumpuk dekat dengan jalan poros penghubung Kecamatan itu.
"Kendala kita pada alat berat. Selama ini kita pinjam dari PU dan Perkebunan. Info terakhir, alat berat milik PU rusak dan milik Perkebunan tidak ada ditempat," bebernya Rabu (2/1/2019).
Alat berat ini, tambah Hendra, memang merupakan hal mutlak yang harus ada di TPA. Terutama pada lokasi yang sempit seperti di TPA Gogok.
Apa yang menjadi keluhan DLH ternyata mendapat respon positif dari Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi. Irwan sudah ada arahan agar dana kemitraan Bank Riau Kepri (BRK) dimanfaatkan untuk untuk pembelian alat berat. Selain itu, DLH juga dapat bantuan berupa 5 unit bak sampah dan 5 unit gerobak motor.
"Dua dari lima unit Kaisar (gerobak motor-red) akan kita serahkan ke Pemcam Rangsang dan Rangsang Barat," katanya.
Sementara 5 unit bak sampah tambah Hendra, akan ditempatkan di Kota Selatpanjang. Sebelum penempatan, DLH terlebih dahulu duduk dengan pihak kelurahan dan pihak kecamatan. Agar, setelah adanya bak sampah itu, bisa menjawab kebingungan masyarakat, dimana harus membuang sampah.
"Kalau jadwal membuang sampah yang telah kita terapkan, sudah dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Semoga dengan semua upaya ini akan meningkatkan lagi kesadaran masyarakat," ujar mantan Kepala Badan Penanaman Modal itu.
Terkait kendala sempitnya lokasi TPA Gogok, kata Hendra, telah ada upaya untuk mempercepat penyelesaian masalah lahan TPA baru di Desa Kundur, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Melalui DLHK Riau, lahan TPA di Kundur dimasukkan ke Kementerian untuk program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA). "Semoga cepat ditindaklanjuti," harap Hendra Putra.
Adi (38) warga Kecamatan Tebingtinggi Barat berharap Meranti ada TPA baru, yang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Karena, bau dan asap dari pembakaran sampah di TPA Gogok sangat mengganggu pengguna jalan yang melintas di sana.
"Kadang asapnya sangat tebal. Kalau seperti sekarang, sampahnya dekat dengan jalan besar, sangat bau," kata Adi. (humas001)
Kategori
Topik
Bagikan