Manfaatkan Sabut Kelapa Secara Ekonomi

Kamis, 1 Agustus 2019. Waktu baca 1 menit 51 detik.
image
Manfaatkan Sabut Kelapa Secara Ekonomi

MERANTI – Kecamatan Rangsang sebagai wilayah produksi kelapa terbesar di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Sekitar 80 persen lahan ditanami komoditi kelapa.

Namun selama ini, masih banyak bagian dari perkebunan kelapa yang belum dimanfaatkan secara ekonomi. Salah satunya sabut kelapa.

Camat Rangsang, Tunjiarto mengatakan terdapat ratusan ribu ton sabut kelapa tidak dimanfaatkan. Bahkan, masyarakat menilai sabut kelapa menjadi limbah dan dimusnahkan dengan membakarnya.

Menurutnya, limbah sabut kelapa dapat memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Ia mengaku kagum dengan sejumlah pengerajin menciptakan limbah sabut menjadi sebuah produk yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Ini merupakan solusi baru. Saya sangat tertarik dengan produk-produk yang dibuatkan oleh pengerajin. Namun kendalanya bukan hanya dalam pengolahan sabut saja, tetapi teknologi untuk pengolahannya kita tidak punya. Ini yang menjadi kelemahannya,”ungkap Tunjiarto.

Disamping itu, ia mengaku, pengolahan limbah sabut kelapa yang dilakukan masih terdapat beberapa kendala. Jika sudah dijadikan produk, juga akan muncul persoalan lainnya yakni pemasaran. Bahkan, dana pengolahannya tidak sesuai dengan harga jual produk sabut yang sudah jadi.

“Dulu sudah pernah produksi dan dilihat oleh pengusaha Malaysia dalam bentuk setengah jadi atau bal.  Namun nilainya setelah dikurs kan dalam dollar dan dihitung produksinya tidak seimbang. Waktu itu, diolah dengan peralatan yang diciptakan oleh ahli dari masyarakat asli di Rangsang. Namun sekarang sudah menjadi besi buruk,” terang Tunjiarto.

Dengan begitu, ia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti agar bisa mencari formulasinya. Sehingga potensi limbah sabut ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Karena di Kecamatan Rangsang, produksi kelapa sangatlah besar.

Sekretaris Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Kepulauan Meranti, Rudi Al Hasan menyebutkan, pihaknya akan terus berupaya memaksimalkan limbah sabut kelapa menjadi produk. Walaupun banyak tantangan. Rudi mengakui, ada tiga hal penting yang perlu kembali dibenahi adalah, kemandirian, inovasi, dan konsistensi.


"Industri Kecil dan Menengah (IKM) kita belum mandiri. Jika datang penyuluh untuk melihat, mereka pasti langsung mempertanyakan bantuan. Saya pikir kalau hanya selalu mengharapkan bantuan, perkembangan usaha berkemungkinan besar sulit untuk berkembang. Karena kita pasti akan menyiapkan bantuan apa yang dibutuhkan nantinya," terang Rudi.

"Kemudian inovasi produk akan kita benahi. Bagaimana tidak, pelaku usaha kita modelnya bulan ini berproduksi kalau harga bagus. Tapi kalau harganya tidak cocok, mereka tidak produksi. Jadi kita lakukan dulu pelatihan, nanti output nya seperti apa," tambah Rudi lagi. (humas/005)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti