Kasus Demam Berdarah Nyusut Setengah

Selasa, 13 November 2018. Waktu baca 1 menit 58 detik.
image
Kasus Demam Berdarah Nyusut Setengah
Selatpanjang - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kepulauan Meranti, hingga awal November 2018 mengalami penurunan.
 
"Jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya, angka kasus DBD mengalami penurunan yang cukup signifikan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Muhammad Fahri, SKM, Selasa (13/11/2018).
 
Dijelaskan Fahri, tahun 2015 angka kasus DBD tercatat sebanyak 310 kasus, sedangkan tahun 2016 turun menjadi 183 kasus. Angka tersebut kembali menurun pada 2017, menjadi 58 kasus. Meski jumlah kasus menurun, namun dari 2015 hingga 2017 tercatat 6 orang meninggal akibat kasus DBD. 
 
Trend positif itu kembali terlihat di Tahun 2018 ini. Hingga awal November, kasus DBD kembali bisa ditekan hingga ke angka 20 kasus, tanpa ada korban jiwa. 
 
"Tahun ini penurunan kasus DBD sangat signifikan, jika di banding tahun lalu, kita berhasil menekan angka kasusnya hingga 50 persen," ujar Fahri. 
 
Keberhasilan tersebut diakui Fahri, berkat sinergi seluruh pihak. Dinas Kesehatan melalui UPT Puskesmas di setiap kecamatan gencar melakukan langkah sosialisasi, abatenisasi, serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan mengaktifkan program satu rumah satu jumantik.
 
"Sejak awal tahun 2018 kita sudah gencar turun mengampanyekan program 3 M plus, untuk menggugah masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar", beber Fahri.
 
Untuk daerah endemis DBD seperti di wilayah kerja Puskesmas Alahair dan Puskesmas Selatpanjang, pihaknya melakukan antisipasi dengan meningkatkan kewaspadaan dini. Salah satunya menyiapkan bubuk abate dengan porsi lebih banyak dari Puskesmas lainya.
 
"Untuk tahun 2018 saja kita siapkan 3 ton lebih bubuk abate. Sebanyak 300 Kg disiapkan untuk masing-masing Puskesmas dan di bagikan secara gratis per tiga bulan ke masyarakat," pungkas Fahri.
 
Salah satu Puskesmas yang berhasil menekan kasus DBD, yakni Puskesmas Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Berkat program Detektif Jumantik Sekolah (DJS), sosialisasi DBD bisa dilakukan secara meluas sehingga lebih maksimal.
 
Hal senada disampaikan Kepala Puskesmas Alai, dr. Farid Moses Ahmad Yudistira. Menurutnya, keberadaan Detektif Jumantik Sekolah akan masif melakukan sosialisasi. Tak hanya di lingkungan sekolah, namun juga di lingkungan rumah masing-masing.
 
Pria yang akrab di sapa dr. Moses itu mengaku, tak hanya menyiapkan kader DJS, pihaknya juga mengaktifkan peran jumantik Desa hingga melibatkan anak Pramuka dalam membasmi perkembangan nyamuk Aedes Aegypti. Sehingga, kasus DBD di tahun 2018 nihil dari jumlah 30 kasus di 2016 dan 3 kasus di 2017 lalu.
 
"Setiap 3 bulan kita akan berkolaborasi dengan pramuka untuk melakukan abatenisasi massal di Kecamatan Tebingtinggi Barat, serta melibatkan peran Jumantik di 14 desa yang ada di kecamatan tersebut," tutup Farid. (MC Meranti/Humas/Na)
 
 
 
 
 

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti