DWP Meranti Angkat Tata Busana Melayu, Tekankan Pakaian sebagai Identitas dan Warisan Budaya
Kamis, 8 Oktober 2026. Waktu baca 2 menit 56 detik.
MERANTI – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kepulauan Meranti mengangkat tema tata cara berbusana Melayu dalam pertemuan rutin bulanan yang digelar di Gedung Kuning Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman anggota DWP terhadap pakaian Melayu sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.
Ketua DWP Kabupaten Kepulauan Meranti, Ny. Dwi Nofmiyani Sudandri, mengatakan pemilihan tema tersebut berkaitan dengan momentum bulan Oktober yang identik dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Menurutnya, sebagai masyarakat yang memiliki akar budaya Melayu, penting bagi masyarakat Meranti untuk mengenal dan memahami tata cara mengenakan pakaian Melayu secara baik dan benar.
“Tema dari pertemuan bulan ini mengingat pada bulan Oktober ini ada peringatan Sumpah Pemuda, yang mana kita sebagai masyarakat Meranti yang bersuku Melayu harus kembali mengingat salah satu identitas kita, yaitu berpakaian kurung Melayu yang baik dan benar,” ujar Dwi.
Ia menegaskan, pakaian Melayu tidak hanya dipandang dari sisi penampilan. Di dalamnya terdapat nilai adat, agama dan filosofi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu.
Karena itu, Dwi berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan anggota DWP mengenai tata cara berbusana Melayu sekaligus mendorong upaya pelestarian budaya daerah.
“Dengan memahami tata cara dan makna yang terkandung dalam pakaian Melayu, kita tidak hanya menjaga adat dan budaya, tetapi juga turut menjaga identitas masyarakat Meranti sebagai masyarakat yang memiliki akar budaya Melayu,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi khusus mengenai tata cara mengenakan baju Melayu dan penggunaan atributnya yang disampaikan Abdullah, S.Pd.
Abdullah menjelaskan, pakaian Melayu memiliki aturan penggunaan yang berkaitan erat dengan ketentuan agama dan adat. Karena itu, setiap unsur dalam pakaian tersebut memiliki makna yang tidak dapat dipisahkan dari nilai kehidupan masyarakat Melayu.
“Mengenakan baju Melayu memiliki tata cara tersendiri, seperti makna dari pemakaian baju Melayu yang berdasarkan ketentuan syarak dan dikungkung oleh ketentuan adat,” jelas Abdullah.
Ia kemudian memaparkan sejumlah ketentuan dalam penggunaan atribut pakaian Melayu, mulai dari ikatan kain dagang luar dan kain dagang dalam, penggunaan kain sampin, hingga tata cara pemakaiannya.
Menurut Abdullah, berbagai bagian pakaian Melayu juga memiliki filosofi tersendiri. Lima kancing pada baju Melayu, misalnya, dimaknai sebagai simbol Rukun Islam, sedangkan tiga suku pada baju Melayu melambangkan akidah, Islam dan ihsan.
Sementara kain sampin memiliki makna berkaitan dengan kesungguhan menjaga syahwat, aurat dan kehormatan. Adapun baju Melayu dengan satu kancing dimaknai sebagai simbol tauhid, yakni keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa pakaian Melayu bukan sekadar busana untuk memperindah penampilan. Di balik bentuk dan atributnya terdapat pesan moral, nilai keagamaan serta ketentuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Pertemuan rutin DWP itu diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), Kharisma Nur Annisa, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dharma Wanita Persatuan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin Ramzi serta laporan panitia pelaksana yang disampaikan Ny. Willy Saiful.
Setelah sambutan Ketua DWP, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi tata cara berbusana Melayu. Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan mengenai berbagai jenis pakaian dan atribut Melayu beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.
Selain menjadi sarana edukasi budaya, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi antaranggota DWP Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama, pembagian doorprize serta pemberian penghargaan kepada peserta yang dinilai mengenakan pakaian Melayu terbaik.
Melalui kegiatan tersebut, DWP Kabupaten Kepulauan Meranti mendorong agar pemahaman mengenai budaya Melayu tidak berhenti pada kegiatan organisasi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan warisan budaya Melayu tetap hidup, dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kategori
Topik
Bagikan