Berbagai Upaya Dilakukan Cegah Abrasi

Sabtu, 11 Mei 2019. Waktu baca 2 menit 40 detik.
image
Berbagai Upaya Dilakukan Cegah Abrasi

MERANTI - Sebagai daerah yang terdiri dari pulau-pulau kecil acaman yang  terbesar bagi Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau adalah Abrasi. Khususnya diwilayah Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan perairan Selat  Malaka.

 

Mengatasi persoalan abrasi tersebut, Pemerintah  Kecamatan (Pemcam) Rangsang Pesisir  telah melakukan berbagai upaya  untuk mencegah lajunya  abrasi tersebut. Salah satunya,  dengan melakukan penanaman bibit pohon api-api disepanjang pantai Rangsang pesisir.

 

Upaya Penanam bibit api-api tersebut merupakan salah satu solusi untuk  menjaga kelangsungan Pulau Rangsang, mengingat setiap tahunnya tidak sedikit daratan wilayah ini  yang dikikis oleh abrasi. Termasuk lahan perkebunan masyarakat.

 

“Memang selama ini beberapa daerah sudah berkali-kali melakukan penanaman bibit pohon api-api tersebut. Sebagian besar gagal akibat kuatnya hantaman gelombang, sehingga sangat sulit bagi bibit pohon api-api untuk tumbuh. Namun demikian, kita akan kembali melakukan penanaman. Tentunya, dengan cara yang baru. Pasalnya, kita juga sudah melakukan uji coba beberapa waktu lalu ternyata berhasil dan kedepannya ilmu yang kita dapatkan itu akan kita terapkan di Rangsang pesisir,” kata Camat Rangsang Pesisir, M Nasir.

 

Kedepanya, Camat akan merencanakan melakukan penanam  sebanyak 8,000 bibit pohon api-api di sepanjang bibir pantai wilayah Kecamatan Rangsang Pesisir. Wacana penanaman tersebut, memang harus dilaksankan. Jika tidak, abrasi akan terus mengikis sepanjang bibir pantai Rangsang Pesisir. “Apalagi Rangsang Pesisir merupakan salah satu pulau  terluar yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka,”ujarnya.

 

Camat Rangsang Pesisir itu menambahkan untuk melakukan penanaman bibit pohon api-api, pihaknya perlu menyesuaikan dengan angin. Karena, kalau memanam bibit pohon api-api tersebut saat musim angin selatan, hempasan gelombang tidak sekuat saat musim angin barat dan angin utara.

 

“JIka Angin barat dan utara tinggi gelombang bisa mencapai 4 meter. Jadi saat memasuki musim angin selatan kita akan mulai melakukan penanaman. Sehigga tingkat keberhasilan bisa semakin besar,” katanya.

 

Menurutnya Jarak atar musim anggin selatan ke musim angin barat itu berjarak sekita 3-4 bulan. Sedangkan bibit pohon api-api jika  terawat dengan baik dalam tempo waktu dua bulan sudah tumbuh dengan baik. Artinya, ketika musim angin barat datang bibit pohon api-api tersebut sudah tumbuh dan berakar,”sebut M Nasir.

 

Kepala Bagian (Kabag) Pengelola Perbatasan Setdakkab  Kepulauan Meranti Efialdi saat dikonfirmasi Jum’at (10/5/2019) mengakui telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah lajunya abrasi disejumlah wilayah di Kepulauan Meranti. Termasuk diwilayah Kecamatan Rangsang Pesisir.

 

“Kita  sudah beberapa kali mengajukan proposal kepada Pemerintah Pusat untuk mengatasi persoalan abrasi di sejumlah wilayah di Kepulauan  Meranti. Ada beberapa sudah terealisasi. Salah satunya pembangunan batu pemecah gelombang disejumlah wilayah, seperti di Desa  Anak setatah, Tanah Merah, Kedabu Rapat dan beberapa daerah lainnya. Hanya saja pembangunan dilakukan secara bertahap,” terangnya.

 

Selain pembangunan batu pemecah gelombang,  juga telah dilakukan penamanan pohon manggarove secara kelompok di sejumlah wilayah di Pulau Rangsang dan Pulau lainnya di wilayah Meranti. “Pohon manggrove dan pohon api-api juga mejadi solusi untuk mengatasi persoalan abrasi di Kepulauan Meranti,”katanya.

 

Menurut Efialdi, dalam penanganan abrasi, tentunya tidak hanya hanya mengandalkan Pemerintah saja akan tetapi peranan masyarakat tentunya sangat diharapkan. Persoalan Abrasi ini merupakan persoalan bersama. “Untuk itu kita mengharapkan kesadaran masyarakat  terhadap bahaya abrasi ini,” ujarnya.  (humas/020)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti