1.651 Balita di Meranti Stunting
Selasa, 19 Februari 2019. Waktu baca 1 menit 52 detik.
1.651 Balita di Meranti Stunting
MERANTI - Sebanyak 1.651 Balita di Kepulauan Meranti masuk kategori stunting. Stunting ini adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan yang menyebabkan ia lebih pendek jika dibandingkan dengan teman-teman seusianya.
Menurut Kadis Kesehatan, Ruswita, sebenarnya Kepulauan Meranti tak masuk wilayah lokus stunting. Sebab Balita yang masuk kategori stunting masih berada di angka bawah 20 persen. Namun demikian, mengatasi stunting merupakan atensi khusus dari kepala daerah agar dinas melakukan upaya-upaya antisipasi dan penanganan yang tepat.
Menanggapi atensi itu, Diskes telah memeriksa terhadap 16.838 Balita sasaran. Hasil pemeriksaan, sebanyak 1.651 Balita masuk kategori stunting. "Kita sudah periksa semua Balita. Lebih 1.000 Balita masuk kategori stunting," ujarnya.
Menurutnya, banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil. Apalagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.
Ditambahkan Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Muhammad Hasrin SKM, masalah stunting ini menjadi fokus mereka. Setiap ada pertemuan dengan lintas sektoral, selalu disosialisasikan.
Selain itu, tambah Hasrin, melalui Puskesmas dan Posyandu juga rutin dilakukan pemeriksaan. Baik kepada ibu hamil ataupun Balita. "Di Posyandu, kita tingkatkan pelayanan, seperti penimbangan dan pengukuran tinggi badan anak," katanya.
Kemudian, diminta juga Bidan Desa agar turun ke lapangan untuk melihat kondisi Balita. Bidan jangan hanya stand by di Posyandu saja. Hasil pantauan, harus dilaporkan ke Dinas, melalui masing-masing Puskesmas.
"Seandainya waktu hamil sudah melaksanakan pemeriksaan minimal 4 kali, insya Allah bayi itu akan sehat saat lahir," jelas Hasrin.
"Balita yang masuk kategori stunting kita berikan makanan tambahan agar asupan gizi terpenuhi," tambahnya.
Jika tak ditangani dengan baik, maka stunting akan memengaruhi pertumbuhan hingga dewasa. Tidak cuma dampak fisik saja, anak-anak stunting akan mengalami hal-hal berikut, diantaranya, kesulitan belajar, kemampuan kognitifnya lemah, mudah lelah dan tak lincah dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Selain itu, risiko untuk terserang penyakit infeksi lebih tinggi, risiko mengalami berbagai penyakit kronis (diabetes, penyakit jantung, kanker, dan lain-lain) di usia dewasa.
Ketika dewasa nanti, bahkan dilaporkan bahwa anak pendek akan memiliki tingkat produktifitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja. Stunting adalah masalah gizi yang berdampak hingga anak berusia lanjut usia apabila tidak ditangani segera. (humas/001)
Kategori
Topik
Bagikan