Walaupun Karhutla, Kesehatan Masyarakat Masih Baik
Sabtu, 9 Maret 2019. Waktu baca 2 menit 27 detik.
Walaupun Karhutla, Kesehatan Masyarakat Masih Baik
MERANTI - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepulauan Meranti, Provinsi Riau menyampaikan bahwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi belum berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Seperti yang diakui Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri, SKM Jumat, (8/3/2019) saat ditemui di kantornya.
Dirinya mengatakan bahwa jumlah penderita Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Kepulauan Meranti pada pekan pertama Maret ini berjumlah 241 kasus. Dimana di dalam sepekan ini merupakan jumlah kasus terbanyak kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Meranti.
Walauapun demikian melalui jumlah ini dikatakannya belum ada peningkatan signifikan terhadap jumlah penderita ISPA. Dikatakannya jumlah peningkatan kasus secara signifikan bila jumlah kasusnya meningkat tiga kali lipat dalam pergantian bulan.
"Sampai saat ini belum ada peningkatan jumlah siginifikan terhadap penderita ISPA di Kepulauan Meranti," ungkapnya.
Hingga saat ini pun pihaknya belum ada mendirikan posko khusus untuk menangani kesehatan di wilayah Meranti yang terkena dampak kebakaran. Fahri mengatakan pihaknya tetap berkoordinasi dengan pihak puskesmas yang ada di tiap Kecamatan di Kepulauan Meranti untuk memantau dampak terhadap kesehatan masyarakat dari kebakaran yang terjadi.
"Kita belum ada buat posko khusus di lapangan karena sudah ada puskesmas dan Pustu disana," ungkapnya.
Pihak puskesmas dan Pustu yang ada di kecamatan dikatakan Fahri sampai saat ini belum menyampaikan ada kendala di lapangan. "Kami punya alarm sendiri, kalau ada peningkatan, kita langsung kirim tim ke daerah yang terdampak. Sampai saat ini pihak puskesmas Masih bisa menangani," ungkapnya.
Dirinya mengatakan bila terjadi dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat pihak diskes akan menurunkan tim untuk membagikan masker dan melakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. "Kita langsung turun, baik membagikan masker dan memberikan penyuluhan untuk mengantisipasi ISPA," ujarnya.
Fahri mengatakan penderita ISPA di Kepulauan Meranti tidak hanya disebabkan oleh pengaruh asap. "ISPA bisa disebabkan dari influensa, alergi, bakteri udara panas, kurangnya minum sehingga dehidrasi, kurang konsumsi buah dan lainnya," tambahnya.
Dari data Diskes, pada bulan Januari 2019 jumlah untuk ISPA berjumlah 2.282 kasus dan untuk bulan Maret 2019 berjumlah 2.740 kasus.
Dirinya berharap dengan kondisi kebakaran dan cuaca panas ekstrim saat ini, masyarakat bisa lebih menjaga kesehatan dan mengantisipasi dini agar terhindar dari penyakit.
"Kita himbau masyarakat tidak keluar rumah bila dalam keadaan ada asap, banyak minum air supaya tidak dehidrasi dan menurunkan daya tahan tubuh," Pungkasnya.
Sementara itu Kabag Humas dan Protokol Setdakab Kepulauan Meranti Heri Saputra mengatakan pemkab Meranti sudah cukup proaktif terhadap mendeteksi kebakaran yang terjadi. "Sudah beberapa titik di kepulauan Meranti sudah terbakar dan Alhamdulillah sudah diambil tindakan yang represif oleh kepala BPBD dalam hal ini sebagai tenaga lapangan," ujarnya.
Dirinya mengatakan hingga Jumat (8/3/2019) sudah tidak ada lagi titik api yang terdeteksi di wilayah kepulauan Meranti. Namun tim satgas dari BPBD Kepulauan Meranti, TNI, Kepolisian serta masyarakat tetap berada di lokasi terjadinya kebakaran untuk tetap mengantisipasi kebakaran yang kemungkinan besar bisa terjadi.
"Karena lahan kita gambut, api bisa muncul kapan saja tanpa kita duga. Sehingga tim bahkan masih berada di lokasi yang rawan," pungkasnya. (humas/019)
Kategori
Topik
Bagikan