Sebelum Menjadi Tepung, Sagu Melewati 7 Tahap Pengolahan
Kamis, 8 Agustus 2019. Waktu baca 2 menit 56 detik.
Sebelum Menjadi Tepung, Sagu Melewati 7 Tahap Pengolahan
MERANTI – Tepung sagu menjadi bahan dasar dalam membuat berbagai macam jenis makanan. Mulai dari mie, kue basah, kue kering dan produk turunan lainnya.
Namun sebelum menjadi tepung ada 7 tahapan proses pengolahan yang dilakukan. Dari seluruh tahapan, ada yang dilakukan secara manual dan ada juga dengan bantuan peralatan mesin.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura (Disbunhorti), menjelaskan proses awal dimulai dengan pemilihan pohon yang sudah memiliki pati yang banyak. Biasanya ukuran batang dan usia menjadi pedoman.
“Biasanya pohon sagu yang layak panen saat berusia 8 hingga 10 tahun. Dengan rata-rata tinggi 10 sampai 11 meter,” ungkapnya.
Kemudian proses selanjutnya dengan pembersihan dan pemotongan batang sagu menjadi tual.
“Setelah ditebang, batang sagu dibersihkan dari pelepah daun maupun duri-durinya. Setelah itu dipotong-dipotong dengan ukuran lebih kurang satu meter. Potongan ini biasanya disebut dengan istilah "tual" oleh masyarakat setempat,” katanya.
Selanjutnya tual tersebut digolek, atau digelindingkan dari lokasi perkebunan ke tepi jalan atau tepi sungai. Setelah itu petani biasanya membawa tual-tual ini ke pabrik sagu.
“Tual-tual sagu ini kemudian dilobangi bagian atas dan bawahnya dengan batangan besi yang telah dirancang sedemikian rupa, khusus untuk mendorong tual sagu keluar dari kebun. Alat untuk mendorong tual ini disebut "penggolek" dan proses mengeluarkan tual sagu ini dikenal dengan sebutan "menggolek",” ujar Tengku Efendi.
Untuk memudahkan tual keluar dari lahan perkebunan, pelepah-pelepah sagu ini tampak disusun melintang di dalam kebun dan berfungsi sebagai jalan. Perlu keahlian khusus untuk menggolek tual ini, karena tidak mudah untuk membawa potongan sagu ini keluar apalagi dua hingga empat tual sekaligus.
Setelah terkumpul, biasanya tual-tual ini akan dimasukkan kedalam sungai ataupun kanal-kanal yang sengaja digali untuk menghanyutkan tual menuju sungai ataupun laut. Baru kemudian dilakukan proses perakitan menggunakan tali tambang. Masing-masing tual akan disatukan dalam simpulan tali, baru kemudian ditarik dengan kapal menuju pabrik ataupun bangsal.
Proses selanjutnya mengupas dan memarut Tual. Tual-tual sagu ini kemudian dikupas kulitnya menggunakan sebilah kapak, dan setelah itu di potong kembali menjadi empat hingga lima bagian sebelum dimasukkan ke dalam mesin parut.
Dilanjutkan dengan proses pencucian sagu. “Serbuk hasil parutan tadi langsung ditampung di dalam sebuah bak yang biasanya terbuat dari beton. Bak ini dilengkapi dengan sebuah kipas untuk memutar air yang dimasukkan untuk mencuci sagu. Setelah mencapai batas isi tertentu, air yang telah bercampur dengan pati sagu tadi keluar melalui sebuah pipa yang telah diberikan saringan terlebih dahulu,”lanjut Tengku Efendi.
Dilanjutkan dengan proses pembekuan. “Air yang keluar dari pipa tadi sudah merupakan sagu yang cair, kemudian ditampung di dalam sebuah bak atau sering disebut dengan ube oleh masyarakat setempat. Setelah lebih kurang dua minggu, air di dalam ube tadi akan membeku dan menjadi sagu basah,” ucapnya.
Proses ketujuh atau terakhir dalam pengolahan sagu menjadi tepung yakni pengeringan. “Sagu basah itu kemudian dikeringkan supaya menjadi tepung sagu. Proses pengeringan itu dapat dilakukan dengan menggunakan oven atau dijemur di bawah terik matahari,”tambahnya.
Iwin Hs, salah satu petani sagu di Meranti, mengatakan, proses pengolahan sagu itu dapat memakan waktu hingga dua minggu lamanya. Di bangsalnya di Hulu Kabung, Desa Lukun Kecamatan Tebingtinggi, Iwin melakukan pengolahan sagu hanya sampai menjadi sagu basah.
"Sagu basah itu saya antar ke tauke-tauke di Selatpanjang. Tauke itu yang akan mengeringkan," ujarnya.
Dalam dua minggu itu, Iwin biasa menghasilkan hingga 10 ton sagu basah. Satu kilogram sagu basah biasa ia jual dengan harga Rp 3 ribu.
Di tangan para tauke, sagu basah itu dikeringkan lalu dijual dalam bentuk tepung sagu. Harga tepung sagu sendiri berkisar Rp 6 hingga 8 ribu per kilogram. Tepung sagu ini yang kemudian diolah menjadi aneka panganan. (humas/017)
Kategori
Topik
Bagikan