Sagu Memiliki Kadar Gula Lebih Rendah Dari Beras dan Terigu
Selasa, 6 Agustus 2019. Waktu baca 2 menit 10 detik.
Sagu Memiliki Kadar Gula Lebih Rendah Dari Beras dan Terigu
MERANTI – Walaupun sagu belum populer jika dibandingkan dibandingkan dengan beras atau terigu, namun ternyata sagu lebih sehat dibandingkan dua makanan pokok tersebut.
Seperti yang ditegaskan Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi beberapa waktu lalu. Dalam berbagai kesempatan ia menjelaskan bahwa kandungan gula pada sagu lebih rendah daripada beras dan terigu.
“Jika dikaji kandungan gula didalam komponen sagu, maka lebih rendah dibandingkan beras atau tepung terigu. Sehingga apabila seluruh masyarakat di Indonesia bahkan dunia menkonsumsi sagu secara rutin, maka akan sehat dan terhindar dari penyakit, khususnya diabetes,” jelasnya.
Menurutnya saat ini Pemkab Meranti juga terus mencari produk turunan apa yang akan diproduksi supaya sagu bisa menjadi makanan pokok. Agar nantinya makanan sehat ini bisa dikonsumsi lebih banyak masyarakat di Indonesia dan dunia.
“Kita sedang memikirkan bagaimana caranya dibuat beras dari bahan dasar sagu atau mie instan atau yang lainnya. Jika produksinya berhasil, tentunya berpeluang menjadi makanan pokok yang lebih sehat pastinya,” optimis Irwan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Ir Mamun Murod MM MH mengatakan bahwa sagu bukan makanan kelas dua. Namun makanan terbaik asli Indonesia.
"Kita perlu meluruskan mindset masyarakat bahwa sagu itu bukan makanan kelas dua dan bukan makanan orang miskin. Tapi makan sagu itu jauh lebih baik dari beras," sebutnya.
Menurutnya, sagu sebagai pangan nusantara sudah dimanfaatkan sejak dahulu kala. Bahkan pada salah satu relief di Candi Borobudur, terdapat relief pohon sagu selain relief kelapa, lontar dan aren.
Murod mengaku telah memperjuangkan sagu sejak awal. Bahkan sejak ia menjabat Kadishutbun Kepulauan Meranti beberapa tahun lalu. Ia bahkan telah berkoordinasi dengan pihak Badan Penelitian dari Kementrian. Dengan begitu tentu saja kualitas sagu semakin baik.
“Agar bisa bersaing dengan berbagai macam produk pangan lainnya, diperlukan peningkatan kualitas sagu itu sendiri. Selain itu berbagai macam varian makanan berbahan dasar juga harus terus dikembangkan.
Murod menargetkan sagu dimasa mendatang bisa dijadikan beras organik, mie instan dan gula cair. Varian tersebut memang tidak mudah dibuat secara massal. Namun upaya mencoba terus digagas Pemkab Meranti.
Jika hal itu bisa terwujud nantinya dipastikan produksi sagu akan terus bertambah sejalan dengan semakin tingginya konsumsi sagu oleh masyarakat. Jika produksi meningkat, secara otomatis tentu saja ekonomi masyarakat akan semakin meningkat pula.
Jika ekonomi sudah meningkat, pastinya kesejahteraan masyarakat di Kabupaten termuda di Riau akan terwujud. Karena secara keseluruhan sebagian besar masyarakat di Kabupaten termuda di Riau itu hidup dari perkebunan sagu.
“Hal itulah yang menjadi target akhir dari perjuangan Pemerintah dalam memperjuangkan sagu. Dalam hal ini, pemerintah hanya memfasilitasi dan mendorong sagu bisa menjadi panganan terbaik dunia sehingga kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di Kepulauan Meranti dapat terwujud,” terang Murod. (humas/017)
Kategori
Topik
Bagikan