Pemkab Meranti Terus Dorong Potensi Marikultur
Senin, 6 Mei 2019. Waktu baca 5 menit 18 detik.
Pemkab Meranti Terus Dorong Potensi Marikultur
MERANTI--Pengembangan potensi marikultur atau lebih dikenal dengan budi daya hasil laut terus didorong Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Langkah itu ditempuh mengingat potensi laut di daerah ini masih sangat sangat menggiurkan.
Sejalan dengan rencana program jangka menegah, target Pemkab Meranti menjadikan daerah ini sebagai satu satunya poros maritim terbaik di Provins Riau. Namun, mendongkrak prospek marikultur di wilayah garis pantai, hingga lepas pantai di seluruh pulau yang tersebar di daerah tersebut, memang belum begitu maksimal.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ishak mengungkapkan, sampai saat ini permintaan pasar ikan air laut sangatlah besar. Terlebih untuk jenis ikan kakap putih. Mulai dari permintaan pasar lokal, hingga pasar macanegera seperti Malaysia, dan Singapura.
Dalam membangun potensi tesebut, sejak lima tahun belakangan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menggalakkan program budidaya melalui keramba jaring apung. Upaya ini dinilai lebih efektif dan cendrung memiliki dampak yang lebih baik terhadap peningkatan nilai ekonomi jika dibandingkan dengan menangkap ikan di laut.
Untuk sampai kearah itu, pemerintah daerah juga intens memberikan bantuan kepada kelompok nelayan. Bantuan tersebut merupakan hasil dari singkronisasi program Pemkab Meranti, provinsi, hingga pemerintah pusat dalam memberdayakan kelompok nelayan.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti, saat ini terdapat 84 unit kerambah jaring apung yang terebar di laut Kepulauan Meranti. Dari jumlah itu secara detail terdapat 333 kantong kerambah jaring apung yang dikelola oleh 260 orang nelayan yang beralih profesi sebagai pembudi daya ikan kakap putih. Setidaknya dari 250 orang nelayan yang mereka berdayakan untuk mengelola program tesebut, sudah bisa panen sebesar 23 ton ikan kakap putih per minggunya.
"Setiap kantong tidak kurang 70 Kg panen setiap minggu. Jika ditotalkan dari data kita, terdapat 23 ton kakap putih yang panen di setiap minggunya," ungkap Ishak.
Sejak program tersebut diluncurkan memang tampak sedikit berkambang, walupun belum begitu maksimal seperti yang diinginkan." Namun, kami terus berupaya untuk mengembangkan protensi ini, "ujarnya.
Menurut dia, untuk menjalankan bisnis budi daya ikan di Kabupaten Kepulauan Meranti sangatlah mudah. Apalagi mengenai pasokan pakan. Dan, ikan rucah (ikan campuran) menjadi pilihan terbaik bagi pengusaha pembudidaya. Pasalnya, setiap nelayan tangkap pulang melaut, mereka kerap membuang atau membawa pulang ikan rucah untuk dijadikan pakan ternak.
Selain mudah didapat, ikan rucah memiliki kandungan protein yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pelet. Biasanya, para pegelola kerambah mendapatkan rucah dengan harga yag relatif jauh lebih murah ketimbang harus menyediakan pelet.
"Dengan lima ribu Rupiah sudah bisa memenuhi pakan dalam satu unit kerambah jaring apung mereka dalam sehari. Jika berlebih mereka bisa pasok menggunakan lemari pendingin, dan pakan mereka bisa bertahan dengan waktu yang sangat lama," ujarnya.
Setiap kali panen, harga jual ikan kakap putih per kilogramnya mencapai Rp.70 ribu sampai Rp.80 ribu. "Itu harga lokal jika dijual atau ditolak di pasar lokal Meranti. Berbeda jika ditolak ke luar negeri, bisa mencapai seraturan ribu setiap kilogramnya," ungkapnya.
Walaupun dinilai sangat menjanjikan, potesi tersebut belum begitu dilirik oleh banyak pihak. Padahal, dari data yang ada, perairan yang berpotensi dikembangkan sebagai budidaya ikan keramba di Meranti saat ini bisa mencapai 1.000 hektare.
Sepertinya tidak ada lagi alasan lain untuk tidak melirik bisnis ini. Bahkan, dalam melengkapi dan mendongkrak potensi tesebut pemerintah daerah setempat telah mendirikan Balai Benih Ikan Archeri untuk mencukupi kebutuhan bibit berkualitas bagi pelaku budi daya ikan. Balai benih tersebut beradda di Desa Gogok, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Dibangunya balai benih itu juga untuk memberikan fasilitas kepada pelaku budi daya untuk mendapatkan bibit ikan dengan harga yang jauh lebih murah dengan kualitas premium. Hal itu juga sesuai dengan pernyataan Kepala Balai Pembibitan Provinsi Riau saat peresmian balai pembenihan ikan itu 2017 lalu, yang ketika itu mengklaim bibit ikan yang diberikan pada balai bibit ikan Meranti tersebut berasal dari induk ikan bersertifikat atau berkualitas premium.
Bupati Kabuapten Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi, membeberkan bahwa segala dukungan yang disalurkan oleh Pemerintah Kabupaten Kepuluan Meranti seutuhnya ditujukan untuk percepatan peningkatan ekonomi masyarakat. Terutama dengan dibangunya balai benih Desa Gogok.
Menurut dia, fasilitas tersebut dibangun dalam rangka mencukupi kebutuhan benih ikan budidaya perikanan masyarakat yang tersebar di Kabupaten Kepulauan Meranti. Pasalnya, jika kebutuhan benih dipasok dari daerah luar memiliki standar harga yang jauh lebih mahal ketimbang Meranti.
“Kita berharap kedepan masyarakat Nelayan Meranti dapat membeli bibit ikan dengan harga murah dan berkualitas,” ujar Bupati Irwan.
Dia juga berharap dengan beroperasinya Balai Benih Ikan tersebut dapat mendorong masyarakat Nelayan Meranti untuk beralih dari menangkap ikan di laut lepas, menjadi budidaya ikan di kolam dan keramba jaring apung. Hal ini sebagai antisipasi berkurangnya pendapatan nelayan karena hasil tangkapan di laut yang semakin hari semakin berkurang.
“Dengan adanya Balai Pembibitan Ikan ini kita berharap kepada nelayan yang sebelumnya menangkap ikan di laut lepas mengbah cara mendapatkan ikan dengan metode budidaya perikanan, baik menggunakan kerambah jaring apung maupun kolam,” ujar Bupati.
Dia juga meminta kepada SKPD terkait untuk terus meningkatkan fasilitas di Balai Pembibitan Ikan. Mulai dari luasnya, kebersihan dan teknologi yang digunakan, sehingga pembibitan yang dilakukan dapat berjalan maksimal.
Bupati juga menghimbau kepada masyarakat untuk berkoordinasi dengan Dinas Perikanan memanfaatkan lahan yang ada di lokasi Balai Pembibitan untuk digunakan sebagai tempat budidaya ikan mulai dari lele, nila, U-udang dan lainnya.
“Dinas terkait, lakukan sosialisasi kepada warga agar lahan yang tesedia dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan seperti Lele yang tidak terlalu rumit,” terang Bupati.
Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Fauzi Hasan menyambut baik atas kinerja OPD Meranti dalam membangun mutu ekonomi masyarakat pada bidang marikurtur tesebut. Namun, ia menilai beberapa fasilitas pendukung belum terpenuhi dengan baik. Terutama sarana tempat pelelangan ikan atau TPI.
Karena itulah, sebelumnya ia mengaku telah bertandang di Kementerian Kelautan RI dan mendesak pihak kementerian untuk tanggap terhadap hal itu. Selain itu ia juga menyorot perhatian pihak terkait menyalurkan bantuan program kampung nelayan yang sejalan dengan pembangunan infrastruktur perumahan dan akses jalan.
"Ini sangat dibutuhkan guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Kepulauan Meranti, mengingat penyumbang angka kemiskinan terbesar di Meranti adalah dari kalangan masyarakat nelayan," ungkap Fauzi Hasan.
Untuk itu, ditekankannya pada tahun 2020 mendatang bantuan pemerintah pusat bisa diwujudkan melalui program yang disusun oleh pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Menanggapi harapan itu, Sesditjen Perikanan Tangkap KKP, Ir. Yuliadi mengatakan KKP siap membantu peningkatan peralatan tangkap seperti mesin untuk nelayan tradisional di Kepulauan Meranti. Tentunya dengan catatan bahwa nelayan terwebut tergabung dalam Koperasi atau KUB.
Yuliadi meminta agar dinas terkait dapat mengajukan program-program yang sinkron dengan program Kementerian. KKP juga akan coba berkoordinasi dengan pihak BUMN agar bisa mengarahkan program CSR untuk membantu nelayan di Kepulauan Meranti.(humas/018)
Kategori
Topik
Bagikan