Mushala Al Muslimin dan Vihara Sam Ong Hu, Simbol Kerukunan Umat Beragama di Meranti

Senin, 31 Desember 2018. Waktu baca 2 menit.
image
Mushala Al Muslimin dan Vihara Sam Ong Hu, Simbol Kerukunan Umat Beragama di Meranti

Selatpanjang - Adanya toleransi antarsuku dan agama di Kepulauan Meranti nampak jelas pada Mushala Al Muslimin dan Vihara Sam Ong Hu di Jalan Imam Bonjol Selatpanjang. Keberadaan mereka menjadi cermin bahwa meskipun berbeda keyakinan tetap bisa hidup berdampingan.

Lokasi kedua rumah ibadah itu berdekatan. Jaraknya hanya sekitar satu meter saja. Jika salah satu rumah ibadah itu melaksanakan ritual keagamaan sudah pasti akan terdengar jelas dari bangunan di sebelahnya. Meski begitu tidak pernah sekalipun terjadi konflik atau masalah diantara mereka.

Ayong, penjaga Vihara Sam Ong Hu, mengaku terus menjaga kebiasaan yang ayah dan kakeknya lakukan untuk menjaga kerukunan dengan para pemeluk islam. Hal yeng terpenting menurutnya adalah adanya saling pengertian dan tenggang rasa terutama urusan peribadatan.

Vihara Sam Ong Hu selalu menyesuaikan jadwal ibadah dengan umat islam di Mushala Al Muslimin.

"Islam kan ada waktu tertentu ibadahnya. Kalau kita tidak. Jadi kalau pas bersamaan maka kita mengalah. Waktunya dipercepat atau dimundurkan," jelas Ayong, (31/12/2018)

Dia mengaku resep toleransi turun temurun dari kakeknya itu sampai kini dipegang, bahkan hampir semua warga tionghoa yang ada di Selatpanjang.

"Semua agama itu sama. Saling menghargai dan menghormati saja," tuturnya.

Generasi ketiga yang mengurus Sam Ong Hu ini mengaku tidak pernah terganggu dengan suara azan ataupun bacaan Quran dari Mushala Al Muslimin. Menurutnya sudah dari kecil mendengar dan tahu ibadah umat muslim tersebut.

"Sudah terbiasalah. Dari kecil saya sudah berteman dengan orang Islam, Melayu, Jawa, dan Padang. Tak ada masalah,” ujar Ayong.

Namun meski sudah saling mengenal dan hidup berdampingan, Ayong tidak pernah masuk ke dalam mushala. Alasannya untuk menjaga hubungan baik, agar tidak terjadi masalah.

"Saya tidak pernah masuk (mushala). Takut mereka tersinggung saya masuk rumah ibadah mereka yang suci," beber laki-laki yang sehari-hari berjualan mi itu.

Salah seorang imam Mushala Al Muslimin, Arhab, menceritakan selama ini belum pernah terjadi konflik atau masalah apapun terkait pelaksanaan ibadah. Meskipun ia tidak tahu pasti sejak kapan masjid dan vihara itu didirikan.

"Yang jelas mushala dan vihara ini sudah lama. Cuma duluan dibangun itu mushala, dulu itu kayu sekarang baru dibangun batu," cerita Arhab.

Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kepulauan Meranti, Lukman, berharap keberadaan rumah ibadah muslim dan konghucu yang saling berdampingan itu bisa menjadi ikon atau simbol toleransi umat beragama di daerah ataupun Indonesia secara luas.

"Mushala dan vihara ini bisa jadi pelajaran bagi kita di Indonesia. Bagaimana keyakinan yang berbeda tapi tetap bisa hidup bersama dan berdampingan," kata pria muslim berdarah Tionghoa.(MC Meranti/Humas/Na)

© 2026 DISKOMINFOTIK

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti