Meranti Punya Kopi Liberika
Senin, 31 Desember 2018. Waktu baca 3 menit.
Meranti Punya Kopi Liberika
Selatpanjang – Walaupun memiliki lahan gambut hampir diseluruh wilayahnya, Kepulauan Meranti memiliki komoditas perkebunan Kopi. Namanya, kopi liberika. Jenis kopi ini berbeda dengan kopi lainnya yang berjenis arabika atau robusta.
Kopi jenis liberika ini ditetapkan sebagai jenis sendiri dan berasal dari Kepulauan Meranti setelah varietas nya dilepaskan oleh Pemerintah Pusat pada tahun 2014 lalu.
Secara resmi kopi disini ditetapkan sebagai varian lainnya dari jenis kopi yang sudah ada. Jenis kopi ini hidup di kawasan gambut dan dataran rendah. Berbeda dengan kopi jenis lainnya yang hidup di dataran tinggi.
Dari data Dinas Perkebunan Kepulauan Meranti, luas kebun kopi liberika didaerah ini mencapai 570 hektar. Kopi ini menyebar di 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Rangsang, Rangsang Barat, Rangsang Pesisir, Tebingtinggi Barat, Tebingtinggi Timur dan Pulau Merbau.
Kopi liberika ini lebih dikenal dengan nama sempian, yaitu nama kampung asal mula pertamakali kopi liberika ditanam oleh masyarakat di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir. Ketenaran kopi ini, menyebabkan daerah lain ikut membudidayakan kopi tersebut, diantaranya Desa Alah Air, Pulau Tebingtinggi dan Penyalai (Pulau Mendol, Kabupaten Pelalawan). Namun kualitas dan citarasa yang dihasilkan berbeda jika dibandingkan dengan kopi asal Sempian yang lebih baik.
Kepala Disbun, Ir Achmad Prasetio menyebutkan Kopi Liberika asal Rangsang Meranti merupakan produksi dari industri rumah tangga lokal. Lebih jauh diceritakannya perkembangan Kopi Liberika Desa Kedaburapat Kecamatan Rangsang Pesisir diawali dengan upaya dari salah seorang warga Parit Amat (nama daerah), Desa Kedaburapat Kecamatan Rangsang Pesisir yang merantau ke Batu Pahat, Johor Baru, Malaysia.
Dengan ketertarikannya terhadap kopi yang ada di Batu Pahat Malaysia pada tahun sekitar 1942-an, dibawa sebanyak 6 benih kopi ke Sempian untuk ditanam disana. Setelah berkembang dan menghasilkan buah, maka dilakukan pembibitan.
"Itulah awal berkembangnya kopi di Desa Kedabu Rapat. Dilakukan dengan cara memanfaatkan benih kopi yang tumbuh disekitar pohon induknya. Dengan pertumbuhannya yang bagus, masyarakat mulai mengembangkan sebagai tanaman perkebunan," jelasnya. (31/12/2018)
Dari Parit Amat, selanjutnya berkembang didaerah sekitarnya seperti Parit Besar, Parit Senang, dan Parit Kasan. Daerah ini merupakan penghasil kopi terbesar di Kepulauan Meranti.
Achmad Prasetio mengakui bahwa proses pelepasan varietas kopi asal Kepulauan Meranti tersebut dimulai sejak tahun 2012 lalu. Berbagai tahapan dan ujicoba telah dilakukan terhadap kopi asal Kepulauan Meranti itu.
"Ada 11 orang tim penilai dari Dirjenbun yang menilai usulan kita. Setelah diujikan akhirnya kita memiliki kopi sendiri secara legal," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Dia menyebutkan, Kopi Liberika tersebut diberi nama Liberoit Komposit. Kini pengembangan kopi tersebut terus dimaksimalkan, dengan membangun perkebunan ditingkat petani.
Dengan varian berbeda membuka peluang besar untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkannya. Sehingga sangat berpotensi untuk memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat di Kepulauan Meranti. Apalagi para petani kopi memiliki komonitas tersendiri.
"Kopi ini sangat memiliki potensi yang besar untuk membantu masyarakat kita meningkatkan ekonominya. Apalagi saat ini kegemaran menkonsumsi kopi ditengah masyarakat sangat besar," optimisnya.
Ditambahkannya pengelolaan perkebunan kopi seluruhnya masih dikelola masyarakat.
"Perkebunan kopi seluruhnya dikelola oleh masyarakat petani. Dimana dominasi petani mengelola dikawasan Pulau Rangsang diwilayah pesisir," ujarnya.
Dari 570 hektar, produksi kopi sebesar 68,4 ton pertahun. Sedangkan petani kopinya sebanyak 12 kelompok tani yang terdiri dari sebanyak 475 Kepala Keluarga (KK).
Nyoto, salah satu petani kopi asal Sempian mengaku bahwa kebutuhan hidup keluarganya dipenuhi dari usaha kopi. Ia tidak hanya berkebun kopi saja. Tetapi sampai memproduksi biji dan bubuk kopi kemasan.
“Kopi kemasan saya sudah memenuhi permintaan luar negeri. Tetapi dominasi terbesar, masih permintaan dalam negeri. Alhamdulillah ekonomi kami membaik sejak menjadi petani kopi,” akunya.
Kopi milik Nyoto bahkan sangat laris saat keikutsertaannya dalam pameran di Cina beberapa tahun silam. Kopinya habis terjual sebelum acara pameran selesai.
“Saat itu tujuannya hanya untuk memperkenalkan. Makanya bawa sedikit. Ternyata banyak yang meminati,” sebut Pria yang juga memproduksi Kopi Luak jenis Liberika ini. (MC Meranti/Humas/Na)
Kategori
Topik
Bagikan