Maratul Soleha, Penulis Cilik Pertama Di Meranti
Rabu, 27 Maret 2019. Waktu baca 1 menit 23 detik.
Maratul Soleha, Penulis Cilik Pertama Di Meranti
MERANTI - Maratul Soleha adalah penulis cilik pertama yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Meranti. Siswi SD 09 Bagan Melibur kecamatan Merbau itu berhasil membukukan sebuah memoar. Judulnya: Princess Perdamaian.
"Buku itu menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Mulai dari rumah sampai di sekolah," tutur Zuhra, Kepala SD 09 Desa Bagan Melibur Kecamatan Merbau.
Maratul, begitu ia biasa disapa, lahir pada tanggal 3 Desember 2007. Bakat menulisnya memang sudah terlihat sejak lama. Ia termasuk siswi berprestasi di sekolahnya.
Zuhra menilai Maratul sebagai anak yang baik. Ia tak pernah absen mengikuti kegiatan ekstra di sekolah. Ia bangga Maratul bersekolah di SD 09 Desa Bagan Melibur.
"Kami berharap, adanya penulis cilik ini dapat memotivasi siswa-siswi lain yang ada di SD 09 Desa Bagan Melibur ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Meranti, Nuriman Khair, juga mengapresiasi atas lahirnya penulis cilik di Kabupaten Termuda di Provinsi Riau.
"Ini merupakan yang perdana adanya penulis cilik di Meranti, apalagi lahirnya penulis cilik itu di pulau yang sangat jauh dari Selatpanjang," terang Nuriman, pada Jum'at (22/03/2019).
Untuk itu, dirinya mengharapkan hal ini dapat menjadi contoh bagi anak-anak di Kabupaten Kepulauan Meranti. Agar dapat melahirkan kembali penulis-penulis cilik kedepannya.
Nuriman juga mengatakan saat ini pihaknya tengah menggalakkan Program Wajib Membaca kepada para murid sekolah yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti.
"Dengan program tersebut kedepannya agar dapat menumbuh kembangkan minat baca di kalangan murid," ujar mantan Sekretaris Dewan Meranti itu.
Nuriman menambahkan, untuk menumbuhkan kembali minat membaca dan menulis bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi di tengah perkembangan teknologi saat ini, orang lebih suka melihat gadget ketimbang harus membaca buku berjam-jam.
"Melihat kebiasaan masyarakat saat ini, dibutuhkan gerakan literasi sekolah untuk mendorong program satu guru satu buku," sebut Nuriman. (humas/010)
Kategori
Topik
Bagikan