Kelenteng dan Mushalla Berdampingan, Ikon Bersejarah Kota Selatpanjang
Senin, 18 Februari 2019. Waktu baca 2 menit 46 detik.
Kelenteng dan Mushalla Berdampingan, Ikon Bersejarah Kota Selatpanjang
MERANTI – Banyak isu beredar tentang sara terhadap kerukunan agama yang berujung negatif, sehingga menimbulkan perpecahan jalinan hubungan antara satu sama lainnya.
Tapi, hal itu tidak terjadi di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Kerukunan umat beragama menjadi salah satu ikon kuat dalam menjaga hubungan baik antara satu sama lain yang menjunjung tinggi kebhinekaan tunggal ika.
Kenyataan itu dapat dibuktikan dengan berdirinya Kelenteng Trisakti yang berdampingan dengan Mushalla Muslimin di Jalan Imam Bonjol, Selatpanjang, Kepulauan Meranti. Dua tempat ibadah tersebut sudah sejak dahulu berdiri berdampingan, bahkan masih bermaterial semi permanen.
Sudah banyak masyarakat mengetahui ikon bersejarah tentang kerukunan agama di Selatpanjang ini. Maka tak heran jika banyak warga lain akan terkagum-kagum jika melihat langsung dua bangunan rumah ibadah tersebut saat berkunjung di Kota Selatpanjang.
Seperti diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa di Selatpanjang, Darwin Susandi. Ia mengakui, kelenteng dan mushalla berdampingan itu dibangun semenjak dirinya masih kecil, ditahun 90 an.
"ini sejak dibangun saya kecil. Dulunya masih jalan setapak atau jalan tanah. Bangunan mushalla muslimin itu dulunya juga masih kecil. Begitu juga dengan kelenteng ini," kata Darwin, baru-baru ini saat ditemui wartawan.
Setengah persen penduduk minoritas Suku Tionghoa tinggal bersatu di Selatpanjang dengan penduduk mayoritas muslim Suku Melayu, Jawa, Minang, dan suku lainnya. Namun, hubungan antara dua umat beragama terus terjalin dengan baik.
"Kita bisa membaur dan saling menghormati salah satu sama lainnya. Sikap tolong-menolong terus dilakukan. Ini menjadi ciri khas Kota Selatpanjang, karena ada kelenteng bersebelahan dengan mushalla. Dan, masyarakatnya sampai sekarang masih berhubungan baik," ungkap dia.
Anggota DPRD Kepulauan Meranti itu sangat kagum melihat kedua umat beragama ini saling memberikan toleransi ketika salah satu diantaranya mengadakan sebuah kegiatan keagamaan. Pihaknya selalu meminta izin dengan pengurus mushalla, jika kegiatan keagamaannya agak sedikit menganggu.
"Apapun ketika ada acara atau jam sholat, kita di kelenteng menghormati. Begitu sebaliknya ketika kelenteng membuat acara pihak mushalla menghargai kita. Walaupun ada sedikit suara petasan atau suara-suara yang membuat bising, jadi agak sedikit terganggu. Namun, sebelum itu kita sudah meminta izin kepada pak haji (pihak mushalla)," terang Darwin.
Dia juga berharap, kerukunan umat beragama di Selatpanjang ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lainnya. Sehingga, hubungan baik antara satu sama lain tidak terpecah belah akibat digelitik isu negatif tentang sara.
"Ini bisa mematahkan gosip dan isu miring tentang masalah sara yang beredar, baik di tengah masyarakat maupun didunia maya. Saya minta tolong diluruskan hal demikian. Seperti di Meranti buktinya, kelenteng dan mushalla sampai sekarang ini terus kokoh berdampingan," ujar Darwin Susandi.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan 2 Kepulauan Meranti, Rizky Hidayat SSTP MSi mengungkapkan, sifat toleran masyarakat Meranti sangat tinggi. Keberadaan dua tempat ibadah yang berdampingan, menjadi simbol bahwa masyarakat di daerah ini selalu hidup rukun tanpa ada perselisihan.
"Ini salah satu tanda bahwa masyarakat Meranti orang yang sangat toleran terhadap kerukunan umat beragama manapun. Karena tidak pernah berselisih paham. Itu tandanya Meranti mempunyai toleransi yang tinggi terhadap masyarakatnya," terang Rizky.
Menurutnya, keberagaman umat beragama antara Muslim dan Tionghoa adalah salah satu keunggulan Meranti. Hal ini bisa menangkal isu negatif tentang sara yang terjadi di tengah masyarakat. Dia yakin, suatu saat nanti keberadaan dua tempat ibadah ini akan menjadi destinasi yang membanggakan jika selalu dipublikasi.
"Ini yang dapat membuktikan bahwa informasi isu yang begini atau begitu (negatif) tidak ada. Buktinya saja kelenteng dan mushlla bisa berdekatan, tidak ada masalah selama ini. Bahkan tidak pernah ribut atau sebagainya," sebut dia.(HUMAS/005)
Kategori
Topik
Bagikan